ringkasan
- Cuaca ekstrem memicu berbagai penyakit infeksi seperti ISPA, DBD, diare, dan leptospirosis, serta kondisi non-infeksi seperti hipotermia dan hipertermia, akibat perubahan suhu, kelembaban, dan kontaminasi lingkungan.
- Lonjakan kasus ISPA hingga 15 ribu di Bengkulu menunjukkan kerentanan masyarakat terhadap fluktuasi cuaca yang melemahkan daya tahan tubuh.
- Ahli medis menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, asupan gizi seimbang, serta vaksinasi sebagai langkah pencegahan utama menghadapi dampak cuaca ekstrem.
Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, perubahan cuaca yang semakin tidak menentu kini menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat. Fluktuasi suhu ekstrem, dari panas menyengat hingga hujan deras disertai angin kencang, dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang perlu diwaspadai.
Kondisi iklim yang tidak menentu ini secara signifikan memengaruhi daya tahan tubuh, mempercepat penyebaran patogen, serta berpotensi mengkontaminasi sumber daya esensial. Salah satu contoh nyata terlihat di Kota Bengkulu, di mana Dinas Kesehatan melaporkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 15 ribu kasus.
Lantas, penyakit apa saja yang perlu diwaspadai saat cuaca ekstrem melanda? Mari kita selami lebih dalam deretan penyakit yang mengincar di cuaca ekstrem dan langkah-langkah pencegahan efektif untuk menjaga kesehatan diri serta keluarga.
Penyakit Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA merupakan salah satu penyakit paling umum yang menyerang saat musim hujan atau perubahan cuaca ekstrem. Perubahan suhu yang drastis dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri penyebab ISPA.
Selain perubahan suhu, kelembaban tinggi saat musim hujan juga menjadi faktor pemicu. Kondisi lembab ini menjadi media ideal bagi virus dan bakteri untuk berkembang biak dan menyebar dengan cepat. Ketika cuaca dingin, orang cenderung berkumpul di dalam ruangan, yang secara tidak langsung meningkatkan risiko penularan.
Tanda-tanda ISPA yang harus diwaspadai meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan sesak napas. Pada kasus yang lebih parah, ISPA dapat berkembang menjadi pneumonia. Penting bagi Sahabat Fimela untuk segera mencari pertolongan medis jika gejala-gejala ini memburuk atau tidak kunjung membaik.
Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Leptospirosis
Musim hujan identik dengan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti serta Aedes albopictus. Curah hujan tinggi menyebabkan banyak genangan air, yang menjadi tempat berkembang biak favorit nyamuk-nyamuk ini. Peningkatan populasi nyamuk secara langsung meningkatkan risiko penularan DBD di masyarakat.
Tanda-tanda DBD yang perlu diperhatikan adalah demam tinggi mendadak selama 2-7 hari, nyeri kepala berat, nyeri di belakang mata, serta nyeri sendi dan otot. Gejala lain bisa berupa mual, muntah, ruam kulit, dan perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah. Pada kasus yang parah, DBD dapat menyebabkan syok dan perdarahan hebat yang mengancam jiwa.
Selain DBD, leptospirosis juga menjadi ancaman serius, terutama saat banjir. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urine hewan terinfeksi, terutama tikus. Banjir dapat menyebabkan bakteri ini menyebar luas di air dan tanah. Bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka atau selaput lendir saat kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.
Gejala leptospirosis meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot (terutama betis), mata merah, mual, muntah, dan ruam kulit. Dalam kasus yang berat, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gagal ginjal, kerusakan hati, hingga meningitis. Oleh karena itu, hindari kontak langsung dengan air banjir dan pastikan kebersihan lingkungan selalu terjaga.
Penyakit Saluran Pencernaan dan Kulit
Diare dan penyakit saluran pencernaan lainnya seperti tifus dan kolera juga sangat rentan terjadi saat cuaca ekstrem, khususnya saat banjir. Banjir dapat menyebabkan kontaminasi sumber air bersih dengan limbah dan kotoran, sehingga meningkatkan risiko penularan bakteri penyebab diare. Lingkungan yang kotor dan lembab juga mendukung pertumbuhan bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella.
Tanda-tanda diare yang harus diwaspadai meliputi buang air besar encer lebih dari tiga kali sehari, mual, muntah, nyeri perut, demam, dan dehidrasi. Penting untuk segera mengatasi dehidrasi dengan asupan cairan yang cukup. Jika gejala berlanjut atau memburuk, segera konsultasikan dengan dokter.
Tak hanya penyakit dalam, cuaca lembab dan kontak dengan air kotor juga memicu berbagai masalah kulit. Penyakit kulit seperti gatal-gatal, infeksi jamur, dan infeksi bakteri sering terjadi saat kelembaban tinggi atau setelah terpapar air banjir. Kelembaban yang tinggi dan kurangnya kebersihan menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri pada kulit.
Ruam merah, gatal-gatal, kulit bersisik, lepuhan, atau luka yang terinfeksi adalah tanda-tanda penyakit kulit yang perlu diwaspadai. Menjaga kebersihan diri, segera mandi setelah terpapar air kotor, dan menggunakan pakaian bersih serta kering sangat penting untuk mencegah masalah kulit ini.
Risiko Suhu Ekstrem: Hipotermia dan Hipertermia
Selain penyakit infeksi, cuaca ekstrem juga membawa risiko kondisi medis yang berkaitan langsung dengan suhu tubuh. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah normal (di bawah 35°C) akibat paparan suhu dingin ekstrem. Ini terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang bisa diproduksi. Menggigil tak terkontrol, kebingungan, bicara melantur, detak jantung lambat, dan kulit pucat adalah beberapa tanda hipotermia yang serius.
Sebaliknya, hipertermia atau heatstroke adalah kondisi serius yang terjadi ketika tubuh terlalu panas, biasanya akibat paparan suhu tinggi dalam waktu lama atau aktivitas fisik berlebihan di cuaca panas. Tubuh tidak dapat mendinginkan diri secara efektif, menyebabkan suhu inti tubuh melonjak di atas 40°C. Kulit panas dan kering, kebingungan, pusing, mual, muntah, hingga kejang dan kehilangan kesadaran adalah gejala heatstroke yang memerlukan penanganan darurat.
Penting untuk mengenali tanda-tanda ini dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat. Saat cuaca dingin, kenakan pakaian berlapis dan hangat. Sementara itu, saat cuaca panas, hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan, tetap terhidrasi dengan baik, dan cari tempat teduh untuk mencegah heatstroke.
Pentingnya Kewaspadaan dan Pencegahan Menurut Ahli
Dokter dan ahli medis secara konsisten menekankan pentingnya kewaspadaan dan tindakan pencegahan selama periode cuaca ekstrem. Dr. Erni Juwita Nelwan, Sp.PD, KPTI, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menyatakan bahwa perubahan cuaca ekstrem dapat memicu berbagai penyakit, khususnya yang berkaitan dengan infeksi virus dan bakteri seperti ISPA, flu, dan diare.
Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, juga mengingatkan bahwa musim hujan meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti DBD oleh nyamuk dan leptospirosis oleh tikus. Selain itu, penyakit yang berkaitan dengan sanitasi buruk juga menjadi perhatian utama di kondisi ini. Kesiapsiagaan menghadapi dampak cuaca ekstrem sangat krusial.
Untuk menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem, Sahabat Fimela disarankan untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, termasuk mencuci tangan secara teratur dan memastikan makanan serta minuman bersih. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang untuk memperkuat sistem imun, serta hidrasi cukup dengan minum air yang banyak, terutama saat cuaca panas, juga sangat penting.
Langkah pencegahan lain meliputi melakukan vaksinasi flu dan vaksin lain yang direkomendasikan, serta menggunakan pakaian yang sesuai dengan cuaca. Hindari kontak langsung dengan air banjir dan gunakan losion anti nyamuk untuk melindungi diri. Apabila muncul gejala penyakit, jangan tunda untuk mencari pertolongan medis agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.