Fimela.com, Jakarta Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Meskipun penyebab pasti dari penyakit mata kering belum sepenuhnya diketahui, bersumber dari dieycare.com para ahli sepakat bahwa peradangan memiliki peran penting dalam perkembangan kondisi ini.
Hal yang kemudian sering dipertanyakan adalah apakah mata kering termasuk penyakit autoimun, atau justru merupakan gejala dari gangguan autoimun yang lebih luas. Jawabannya, mata kering bukanlah penyakit autoimun, namun kerap muncul sebagai bagian dari gejala beberapa penyakit autoimun, seperti sindrom Sjögren, artritis reumatoid, dan lupus.
Penyakit autoimun dapat menjadi salah satu faktor risiko munculnya sindrom mata kering. Peradangan kronis yang menyertai kondisi autoimun dapat merusak kelenjar air mata, sehingga produksi air mata terganggu. Inilah mengapa penting untuk tidak mengabaikan mata kering, bisa jadi itu adalah tanda awal adanya gangguan sistemik dalam tubuh.
Layanan medis untuk penanganan mata kering dengan diagnosis akurat
Mengingat penyebab mata kering bisa sangat kompleks dan seringkali berkaitan dengan gangguan menyeluruh seperti penyakit autoimun, penanganannya tidak cukup hanya dengan solusi sementara. Dibutuhkan pendekatan total yang tidak hanya meredakan gejala, tetapi juga menyelidiki akar permasalahan yang mendasarinya.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kesehatan mata dan kualitas hidup masyarakat, JEC Eye Hospitals and Clinics telah menghadirkan layanan JEC Dry Eye Service sejak tahun 2017. Layanan ini merupakan yang pertama di Indonesia dengan menyediakan penanganan mata kering secara menyeluruh, tidak hanya mengobati keluhan tetapi juga menelusuri faktor pemicu yang lebih dalam, termasuk potensi keterkaitan dengan kondisi autoimun.
JEC Dry Eye Service didukung oleh rangkaian pemeriksaan berteknologi tinggi untuk mendiagnosis kondisi pasien secara akurat. Beberapa di antaranya termasuk Dry Eye Questionnaire, Schirmer Test untuk mengukur jumlah air mata, Tear Break Up Time (TBUT) untuk menilai kestabilan lapisan air mata, Ocular Surface Staining guna melihat tingkat peradangan, Meibography untuk memeriksa kelenjar Meibom di kelopak mata, serta TearLab Osmometer yang mengukur tingkat osmolaritas air mata.
Program lengkap JEC Dry Eye Service dari diagnosis hingga terapi
Setelah hasil pemeriksaan dianalisis secara menyeluruh, tim medis dari JEC Dry Eye Service akan menentukan bentuk penanganan yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Penanganan ini dapat mencakup pemberian tetes mata buatan (artificial tears) atau pelumas, pemasangan punctal plug untuk menahan air mata agar tidak cepat menguap, hingga penggunaan obat tetes antiinflamasi dan antibiotik jika ditemukan tanda peradangan atau infeksi.
Untuk kasus tertentu yang lebih kompleks, pasien mungkin akan disarankan menjalani terapi tambahan seperti pemberian tetes mata dari autologous serum yakni serum yang berasal dari darah pasien sendiri untuk mempercepat penyembuhan permukaan mata. JEC juga menyediakan terapi lanjutan seperti E-eye Intense Pulse Light (IPL) dan perawatan Dry Eye Spa, yang dirancang khusus untuk meredakan gejala dan memperbaiki fungsi kelenjar air mata secara bertahap.
Layanan Dry Eye Service ini telah tersedia di lima fasilitas JEC yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah RS Mata JEC Kedoya (Jakarta), RS Mata JEC CANDI Semarang, RS Mata JEC ORBITA Makassar, Klinik Utama Mata JEC BALI Denpasar, dan Klinik Utama Mata JEC JAVA Surabaya. Keberadaan layanan ini memungkinkan pasien mendapatkan akses perawatan yang unggul dan terdepan, tanpa harus pergi jauh.
Penulis: Alyaa Hasna Hunafa
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.