Kenapa Cacing Bisa Hidup di Tubuh Manusia? Mengulik Kasus Anak Cacingan di Sukabumi dan Cara Pencegahannya

1 week ago 19

Fimela.com, Jakarta Kasus balita berinisial R (3) asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang meninggal dunia dengan kondisi infeksi cacing parah kini menjadi perhatian luas. Tubuh almarhumah dipenuhi cacing gelang (Ascaris lumbricoides), bahkan video yang memperlihatkan cacing keluar dari tubuhnya sempat viral di media sosial. Tragedi ini menyadarkan kita bahwa penyakit cacingan bukan sekadar gangguan sepele, melainkan masalah serius yang masih mengintai banyak anak Indonesia, bahkan orang dewasa.

Meski sering dianggap sebagai “penyakit lama,” data menunjukkan infeksi cacing parasit masih tinggi, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk. Pertanyaan pun muncul, kenapa cacing bisa hidup di tubuh manusia, dan seberapa besar bahayanya?

Bagaimana Cacing Bisa Bertahan di Tubuh Manusia?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi cacing usus terjadi ketika telur atau larva tertelan melalui makanan, air, atau tangan yang terkontaminasi. Telur tersebut menetas di usus, kemudian larva bermigrasi melalui aliran darah menuju paru-paru, sebelum akhirnya kembali ke usus untuk tumbuh menjadi cacing dewasa. Di sinilah mereka bertahan hidup, menyerap nutrisi dari tubuh manusia, dan bahkan mampu bereproduksi hingga menghasilkan ratusan ribu telur setiap harinya.

Mayo Clinic mencatat bahwa cacing gelang dewasa bisa bertahan hidup selama 1–2 tahun di dalam usus. Panjangnya bisa mencapai 35 cm, dan pada infeksi berat, jumlah cacing bisa ratusan ekor, seperti kasus tragis di Sukabumi. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan gizi, penyumbatan usus, hingga komplikasi pada hati atau saluran empedu. Ada beberapa jenis cacing yang paling sering menginfeksi manusia:

  • Cacing gelang (Ascaris lumbricoides): paling umum pada anak-anak, terutama di daerah dengan sanitasi rendah.
  • Cacing tambang (hookworm): masuk lewat kulit, mengisap darah, dan dapat menyebabkan anemia.
  • Cacing cambuk (Trichuris trichiura): menempel di usus besar, menyebabkan diare kronis hingga prolaps rektum pada kasus berat.
  • Cacing pita (tapeworm, Taenia): sering menginfeksi orang dewasa melalui konsumsi daging yang tidak dimasak matang.
  • Cacing kremi (pinworm): paling sering ditemukan pada anak-anak, gejalanya berupa gatal di sekitar anus terutama malam hari.

Gejala dan Dampak Kesehatan

Infeksi ringan seringkali tanpa gejala. Namun pada kasus berat, gejala bisa mencakup:

  • Nyeri perut, mual, muntah, atau diare.
  • Kehilangan nafsu makan, berat badan turun, malnutrisi.
  • Batuk atau sesak napas saat larva bermigrasi ke paru-paru.
  • Pada infeksi parah: sumbatan usus, perforasi, hingga gangguan organ lain.

WHO memperingatkan bahwa cacingan pada anak dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, meningkatkan risiko anemia, serta mempengaruhi prestasi belajar.

Kasus Sukabumi, Cacingan yang Berujung Fatal

R, balita asal Sukabumi, diketahui dalam pemantauan gizi karena berada di bawah garis merah (BGM). Meski sudah mendapatkan pemberian makanan tambahan (PMT), kondisi infeksi cacing yang parah membuat tubuhnya tidak mampu bertahan. 

Kasus ini menegaskan bahwa cacingan bukan sekadar masalah ringan, melainkan ancaman kesehatan serius, terutama bagi anak-anak dengan status gizi rentan.

Aturan Obat Cacing, Rutin dan Tidak Boleh Diabaikan

Kasus balita asal Sukabumi yang meninggal dengan kondisi infeksi cacing parah menjadi pengingat bahwa penyakit cacingan bukan hal yang bisa diremehkan. Di Indonesia, infeksi cacing usus masih banyak ditemukan, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang baik. Itulah sebabnya, pemberian obat cacing secara berkala sangat penting, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Aturan Obat Cacing untuk AnakP

  • Pemberian obat cacing biasanya difasilitasi oleh puskesmas atau posyandu.
  • Untuk anak usia 1–12 tahun, obat yang diberikan adalah Albendazole dengan dosis 200 mg hingga 400 mg, cukup diminum satu kali setiap 6 bulan.
  • Obat ini aman dikonsumsi dan terbukti efektif membasmi cacing gelang serta jenis cacing usus lainnya.

Aturan Obat Cacing untuk Dewasa

  • Orang dewasa juga tak boleh mengabaikan konsumsi obat cacing. Pilihan obat yang bisa digunakan, antara lain:
  • Albendazole 400 mg diminum sekali.
  • Mebendazole 500 mg sekali minum.
  • Pyrantel pamoate, yang lebih efektif untuk kasus cacing kremi (pinworm).

Setelah minum obat cacing, biasanya cacing akan keluar melalui feses. “Cacingnya bisa keluar dalam keadaan utuh, atau sudah terurai dan hancur. Keduanya normal, tergantung dari cara kerja obatnya. Jadi jangan khawatir kalau bentuknya berbeda,” tambah dr. Farhan.

Cara Praktis Mencegah Cacingan

CDC dan Mayo Clinic menekankan bahwa pencegahan sederhana bisa sangat efektif menekan angka infeksi cacing. Langkah-langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet.
  • Gunakan alas kaki saat bermain atau beraktivitas di luar rumah.
  • Cuci sayur dan buah hingga bersih sebelum dikonsumsi.
  • Masak daging dan ikan hingga matang untuk membunuh telur atau larva cacing.
  • Minum obat cacing berkala minimal setiap 6 bulan, terutama untuk anak-anak dan keluarga di daerah endemik.
  • Hindari buang air besar sembarangan dan gunakan toilet yang layak.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Hilda Irach
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |