Kenali Masalah Pencernaan pada Anak yang Sering Terjadi dan Perlu Diwaspadai Orang Tua

2 weeks ago 25

Fimela.com, Jakarta Setiap orang tua pasti ingin melihat buah hatinya tumbuh sehat dan ceria setiap hari. Tapi ketika si kecil mendadak rewel, nafsu makan menurun, atau bolak-balik ke toilet, hati pun jadi tak tenang. Ya, gangguan pencernaan memang menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup umum dialami anak-anak. Meski sering dianggap sepele, nyatanya gangguan ini bisa memengaruhi tumbuh kembang dan kualitas hidup mereka.

Mulai dari diare, sembelit, muntah, hingga sakit perut, keluhan saluran cerna sering kali membuat orang tua panik. Beberapa kondisi mungkin bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri, tetapi sebagian lainnya bisa menjadi tanda masalah serius yang memerlukan penanganan medis segera. Tak hanya memengaruhi kondisi fisik anak, gangguan pencernaan ini juga bisa berdampak pada mood, imunitas tubuh, dan aktivitas sehari-hari mereka.

Dijelaskan oleh dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A (K), Dokter Spesialis Anak Subspesialis Gastrohepatologi dari Rumah Sakit Pondok Indah – Puri Indah bahwa gejala saluran cerna pada anak perlu dikenali sejak dini agar orang tua bisa mengambil langkah tepat sebelum timbul komplikasi. Yuk, kenali lebih dalam berbagai masalah saluran cerna yang umum dialami anak-anak dan cara menanganinya dengan bijak.

Gejala Gangguan Pencernaan yang Umum Dialami Anak

Saluran cerna yang sehat ditandai dengan buang air besar (BAB) rutin, nafsu makan baik, tidak ada keluhan pencernaan, serta tumbuh kembang yang optimal. Sebaliknya, gangguan pencernaan bisa ditandai dengan beberapa gejala umum seperti diare, sembelit atau konstipasi, muntah/gumoh, dan sakit perut. Gejala-gejala ini sebaiknya tidak diabaikan karena bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan yang lebih serius.

Diare

Diare terjadi saat frekuensi BAB meningkat menjadi 3 kali atau lebih dalam sehari, dengan konsistensi tinja yang lebih cair dari biasanya. Menurut dr. Himawan Aulia Rahman, kondisi ini bisa berbahaya jika tidak ditangani, terutama karena dapat menyebabkan dehidrasi pada anak. Jika diare berlangsung lebih dari 7 hari, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Diare?

Orang tua perlu mengenali tanda-tanda dehidrasi seperti anak tampak lemas, kehausan, bibir kering, dan jumlah urin yang berkurang atau menjadi pekat. Berikan cairan pengganti (oralit), tetap beri ASI/makanan dalam porsi kecil namun sering, dan segera ke dokter jika diare disertai muntah berulang, tidak bisa minum, demam tinggi, atau tinja berdarah.

Sembelit atau Konstipasi

Sembelit ditandai dengan frekuensi BAB yang jarang, tinja keras seperti kelereng, hingga anak terlihat menahan BAB karena takut sakit. Jika dibiarkan, sembelit bisa menyebabkan komplikasi seperti nyeri perut berulang dan nafsu makan menurun. Penanganan terbaik adalah konsultasi ke dokter, karena perubahan pola makan yang baik seperti buah pepaya saja biasanya tidak cukup untuk mengatasi sembelit yang sudah berat.

Sakit Perut

Sakit perut adalah gejala umum, namun bisa menjadi tanda bahaya jika disertai muntah hijau, demam, penurunan berat badan, atau nyeri saat menelan. Orang tua juga sebaiknya waspada jika nyeri muncul terus-menerus dan mengganggu aktivitas anak, seperti tidak bisa sekolah. Bila sakit perut dirasakan di bagian kanan atas atau bawah, segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Muntah dan Gumoh

Gumoh merupakan keluarnya isi lambung secara pasif dan umum terjadi pada bayi di bawah 12 bulan. Namun, muntah adalah refleks aktif yang bisa menandakan adanya infeksi saluran cerna atau masalah serius lain. Jika anak muntah berulang, terutama disertai tanda dehidrasi, sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lanjutan.

Apa Itu GERD pada Anak?

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi saat isi lambung naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan komplikasi. Pada bayi, gejalanya berupa rewel, sulit tidur, dan berat badan sulit naik. Anak yang lebih besar bisa mengeluh mual, nyeri dada, hingga rasa terbakar di tenggorokan. Jika ini terjadi, konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan terapi yang sesuai.

Perlukah Endoskopi untuk Semua Keluhan Pencernaan?

Tidak semua keluhan pencernaan pada anak perlu dilakukan endoskopi. Tindakan ini hanya dilakukan jika terdapat indikasi kuat seperti muntah berulang, diare lebih dari dua minggu, sakit perut kronis, atau perdarahan saluran cerna (BAB hitam/berdarah). Endoskopi juga bisa menjadi terapi untuk menghentikan perdarahan, mengambil benda asing, memperluas saluran cerna yang menyempit, hingga mengambil batu dari saluran empedu.

Waspada Jika Anak Menelan Benda Asing

Anak-anak, terutama balita, kerap menelan benda asing secara tidak sengaja. Benda yang sering tertelan antara lain koin, baterai kecil, mainan, peniti, hingga cairan berbahaya. Bila ini terjadi, jangan tunda untuk ke rumah sakit agar benda bisa segera diambil melalui prosedur endoskopi sebelum menimbulkan bahaya.

“Awasi anak-anak, terutama bayi, saat mereka memegang benda seperti koin, cairan berbahaya, atau mainan yang mengandung baterai kancing maupun silinder, karena bisa sangat berbahaya,” ujar dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A (K). 

“Jika hal ini terjadi, segera berikan madu dan bawa anak ke rumah sakit terdekat,” sambungnya.

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Siti Nur Arisha
  • Nabila Mecadinisa
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |