Fimela.com, Jakarta Di zaman modern ini, kesadaran akan pentingnya pola makan sehat semakin mengemuka. Banyak individu kini lebih cermat dalam membaca label gizi, memilih produk organik, dan menghindari bahan tambahan yang tidak diinginkan.
Namun, meski niat awalnya mulia, sering kali tanpa disadari kita malah membuat makanan sehat menjadi kurang bermanfaat akibat cara pengolahan, penyimpanan, atau kebiasaan konsumsi yang salah. Fenomena ini kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di rumah tangga yang mengklaim sudah menerapkan gaya hidup sehat.
Dr. David Katz, pendiri Yale-Griffin Prevention Research Center, menegaskan bahwa kualitas makanan bisa berubah berdasarkan bagaimana kita menanganinya, dari dapur hingga ke meja makan.
"Masalahnya bukan kita tidak tahu makanan sehat itu apa, tapi apa yang kita lakukan terhadap makanan tersebut," jelas Katz dalam keterangannya.
Dengan memahami detail-detail kecil yang sering terabaikan, diharapkan kita dapat menjaga nilai gizi makanan dan benar-benar meraih manfaat kesehatan dari apa yang kita konsumsi setiap hari.
Daging ayam sering sekali dibuat olahan makanan khas Indonesia. Tetapi jangan sampai kelewatan cara menyimpannya. Ini dia cara menyimpan daging ayam di kulkas agar tidak cepat busuk.
Kapan Makanan Jadi Tidak Sehat?
Makanan dapat menjadi tidak sehat dan tidak layak konsumsi ketika kualitasnya menurun drastis. Menurut Science Direct, mikroorganisme seperti bakteri dapat menyebabkan pembusukan makanan dengan memproduksi enzim yang menciptakan zat-zat tidak diinginkan. Proses ini mengubah rasa, tekstur, dan aroma makanan sehingga tidak lagi layak dikonsumsi.
Menurut Food Safety and Quality Institute, makanan basi adalah makanan yang mengalami perubahan kondisi sehingga kualitas dan kelayakannya menurun drastis. Makanan yang mengalami perubahan organoleptik, seperti rasa, bau, tekstur, dan tampilan, akibat pertumbuhan mikroba seperti bakteri, ragi, dan jamur, menjadi tidak dapat diterima untuk dikonsumsi. Kondisi ini sering mendukung pertumbuhan patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Proses pembusukan alami atau kontaminasi oleh mikroorganisme yang tidak diinginkan seringkali menjadi penyebab utama dari kondisi ini. Mengonsumsi makanan dalam kondisi demikian berisiko tinggi menyebabkan masalah kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa makanan yang tidak aman, yang mengandung bakteri, virus, parasit, atau zat kimia berbahaya, dapat menyebabkan lebih dari 200 jenis penyakit. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keamanan pangan dari awal hingga akhir proses produksi dan distribusi. Memahami tanda-tanda makanan yang tidak layak konsumsi sangat penting bagi setiap individu untuk menghindari risiko kesehatan.
Kesalahan Umum yang Membuat Makanan Tidak Sehat
Kontaminasi Silang (Cross-Contamination)
Salah satu kesalahan kritis yang kerap terjadi dalam pengolahan makanan adalah kontaminasi silang. Ini adalah kondisi ketika mikroorganisme berbahaya berpindah dari satu bahan makanan ke bahan lainnya, atau dari permukaan dan peralatan yang kotor ke makanan yang akan disantap. Sebagai contoh, penggunaan talenan yang sama untuk memotong daging mentah dan sayuran tanpa dibersihkan terlebih dahulu dapat menyebabkan kontaminasi.
Sani Professional menyatakan bahwa kontaminasi silang juga bisa terjadi akibat penyimpanan makanan yang salah, misalnya menempatkan daging mentah di atas makanan siap saji di dalam kulkas. Cairan dari daging mentah dapat menetes dan mencemari makanan di bawahnya. Selain itu, penggunaan bumbu dari daging mentah pada makanan yang sudah matang juga merupakan bentuk kontaminasi silang yang berbahaya.
Penyimpanan pada Suhu yang Tidak Tepat
Suhu penyimpanan memainkan peran penting dalam menjaga keamanan pangan. Makanan yang mudah rusak seperti daging, unggas, telur, dan produk susu harus disimpan dalam suhu dingin di bawah 4°C atau panas di atas 60°C untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Membiarkan makanan pada suhu ruangan terlalu lama, terutama dalam zona bahaya antara 4°C hingga 60°C, memungkinkan bakteri berkembang biak dengan cepat.
WHO merekomendasikan agar makanan yang baru dimasak segera dikonsumsi atau disimpan pada suhu yang tepat jika disimpan lebih dari 4-5 jam. Mencairkan makanan beku pada suhu ruangan juga sangat berisiko karena bagian luar makanan bisa mencapai suhu zona bahaya sementara bagian dalamnya masih beku. Sani Professional menegaskan bahwa kesalahan ini dapat memicu pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Staphylococcus aureus dan Salmonella enteritidis.
Memasak yang Tidak Sempurna
Memasak makanan hingga mencapai suhu internal yang tepat adalah kunci untuk membasmi bakteri berbahaya yang mungkin ada. Sayangnya, banyak orang hanya mengandalkan warna atau tekstur makanan untuk menilai kematangannya, padahal ini tidak cukup untuk menjamin keamanan pangan. Daging mentah atau setengah matang, terutama unggas, sangat rentan mengandung bakteri seperti Salmonella dan Campylobacter.
FDA menekankan bahwa mencapai suhu internal minimum yang aman adalah satu-satunya cara untuk memastikan keamanan daging, unggas, makanan laut, dan produk telur. Hal ini berlaku untuk semua metode memasak, memastikan bakteri berbahaya benar-benar musnah. Penggunaan termometer makanan sangat disarankan untuk hasil yang akurat.
Kebersihan yang Buruk
Kebersihan adalah dasar utama dalam menjaga keamanan pangan. Kegagalan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan sesudah menangani makanan, setelah menggunakan toilet, atau setelah menyentuh hewan peliharaan, dapat menjadi sumber kontaminasi. Mikroorganisme dari tangan dapat dengan mudah berpindah ke makanan.
Selain kebersihan diri, membersihkan permukaan dapur, peralatan, dan perkakas masak dengan benar juga sangat penting. KlikDokter menekankan bahwa kebiasaan buruk tidak mencuci tangan atau membersihkan alat makan sebelum makan dapat menyebabkan kuman mencemari makanan. Kebersihan yang buruk adalah bahan pertama yang tidak diinginkan dalam setiap makanan yang aman.
Mengabaikan Tanggal Kedaluwarsa
Tanggal kedaluwarsa, atau use by date dan expiration date, adalah batas aman makanan untuk dikonsumsi. Setelah tanggal ini, makanan tidak lagi layak dan harus segera dibuang untuk menghindari risiko kesehatan. Mengabaikan informasi penting ini dapat berakibat fatal bagi konsumen.
Hello Sehat menjelaskan perbedaan antara expiration date dan best before. Meskipun best before menunjukkan kualitas terbaik makanan dan mungkin masih aman dikonsumsi setelahnya jika disimpan benar, expiration date berarti produk tidak layak dikonsumsi lagi. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk mencegah keracunan makanan.
Pemanasan Ulang yang Tidak Benar
Makanan sisa yang disimpan harus dipanaskan ulang dengan benar untuk membunuh bakteri yang mungkin tumbuh selama penyimpanan. Suhu pemanasan ulang yang direkomendasikan adalah 73°C atau lebih. Banyak kasus keracunan terjadi karena makanan sisa tidak dipanaskan dengan sempurna.
Pemanasan ulang yang tidak merata, seperti di microwave tanpa diaduk atau diputar, dapat meninggalkan titik dingin di mana bakteri dapat bertahan hidup. Hal ini membuat makanan tetap berisiko meskipun sudah dipanaskan. Pastikan seluruh bagian makanan mencapai suhu yang aman sebelum dikonsumsi kembali.
Ciri-Ciri Makanan yang Tidak Layak Dikonsumsi
Mengutip dari Pro Food Safety, setidaknya ada enam ciri-ciri makanan yang tidak layak dikonsumsi yaitu:
Bau yang Tidak Sedap atau Berubah
Indikator paling jelas bahwa makanan sudah tidak layak konsumsi adalah bau yang tidak sedap. Bau busuk, tengik, asam, atau bau aneh lainnya merupakan sinyal kuat pembusukan. Misalnya, daging busuk seringkali mengeluarkan bau amis yang menyengat, sementara susu basi akan berbau asam tajam.
Kompas.com menegaskan bahwa jika suatu makanan berbau tengik atau tidak sedap, kemungkinan besar makanan tersebut sudah basi. Indra penciuman kita adalah alat pertahanan pertama yang efektif dalam mendeteksi makanan yang berpotensi membahayakan. Jangan pernah mengonsumsi makanan yang memiliki bau mencurigakan.
Perubahan Warna
Perubahan warna yang tidak biasa pada makanan juga menjadi tanda peringatan. Daging yang segar seharusnya berwarna merah cerah atau merah muda, namun jika berubah menjadi keabu-abuan atau kehijauan, itu menandakan pembusukan. Buah atau sayuran yang busuk juga akan menunjukkan perubahan warna menjadi tidak segar atau pucat.
MyResipi menyebutkan bahwa makanan yang sudah basi mungkin mengalami perubahan warna yang tidak biasa, seperti daging yang menjadi kelabu atau buah yang bertukar warna. Perhatikan baik-baik warna alami makanan dan hindari yang menunjukkan anomali.
Perubahan Tekstur
Tekstur makanan juga dapat memberikan petunjuk penting. Makanan yang basi bisa menjadi lembek, berlendir, lengket, atau bahkan mengeras secara tidak wajar. Daging yang basi umumnya memiliki tekstur lengket atau berlendir di permukaannya.
Kompas.com juga menyoroti ciri lendir dan lengket pada daging sebagai indikator basi. Selain itu, sayuran dan buah yang busuk bisa menjadi layu, lembek, atau berlendir, sementara susu basi akan menggumpal dan yogurt bisa menjadi lebih cair dengan gumpalan.
Munculnya Jamur atau Kapang
Kehadiran jamur atau kapang, yang seringkali terlihat sebagai spora kecil berwarna hitam, merah, putih, atau hijau pada permukaan makanan, adalah tanda jelas pembusukan. Jamur ini menunjukkan bahwa mikroorganisme telah tumbuh dan berkembang biak pada makanan.
Penting untuk diingat, seperti yang dijelaskan Kompas.com, tidak semua jamur pada makanan berarti basi. Contohnya tempe atau oncom, di mana jamur merupakan bagian dari proses fermentasi. Namun, pada makanan lain, jamur adalah sinyal untuk membuangnya.
Rasa yang Tidak Sedap atau Asam
Meskipun tidak disarankan untuk mencicipi makanan yang dicurigai basi, jika terlanjur, rasa yang aneh, pahit, atau asam adalah indikasi kuat bahwa makanan tersebut sudah tidak layak konsumsi. Rasa ini seringkali disebabkan oleh produk sampingan dari aktivitas mikroorganisme.
Perubahan rasa ini menunjukkan adanya proses kimiawi yang tidak diinginkan dalam makanan. Segera buang makanan yang memiliki rasa mencurigakan untuk menghindari risiko keracunan.
Kemasan Rusak atau Menggembung
Perhatikan kondisi kemasan makanan. Kemasan yang rusak, penyok, berkarat, atau menggembung dapat menjadi pertanda bahwa makanan di dalamnya sudah tidak aman atau terkontaminasi. Kerusakan ini bisa memungkinkan masuknya bakteri atau udara yang mempercepat pembusukan.
Kemasan yang menggembung, terutama pada produk kalengan, seringkali mengindikasikan adanya gas yang dihasilkan oleh bakteri di dalamnya. Ini adalah tanda bahaya serius yang tidak boleh diabaikan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.