Fimela.com, Jakarta Lari merupakan salah satu olahraga yang digemari karena mampu meningkatkan kebugaran dan menjaga kesehatan jantung. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa aktivitas ini juga bisa berisiko. Dilansir dari sumber hopkinsmedicine.com, jika dilakukan tanpa persiapan yang tepat atau mengabaikan kondisi tubuh. Meski jarang, serangan jantung saat berlari tetap bisa terjadi, bahkan pada orang yang tampak bugar dan aktif sekalipun.
Beberapa penyebab yang sering tak disadari antara lain kondisi jantung tersembunyi yang belum terdeteksi, tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, hingga gaya hidup yang tidak seimbang seperti stres berkepanjangan atau kurang istirahat. Risiko juga meningkat jika berlari terlalu intens tanpa pemanasan, atau ketika tubuh sedang lelah namun tetap dipaksakan untuk berolahraga. Bagi yang baru kembali aktif berolahraga setelah lama vakum, penting untuk memberi waktu adaptasi dan mengenali kemampuan tubuh sendiri.
Karena itu, penting untuk memahami sinyal tubuh sebelum, saat, dan setelah berlari. Gejala seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, atau jantung berdebar tidak boleh diabaikan. Rutin melakukan cek kesehatan, menjalani pola olahraga yang aman, serta menjaga keseimbangan gaya hidup dapat membantu mencegah resiko serangan jantung dan membuat aktivitas lari tetap aman dan menyenangkan.
Tidak melakukan pemanasan dan pendinginan dengan optimal
Tidak melakukan pemanasan sebelum berlari dan melewatkan pendinginan setelahnya bisa meningkatkan risiko serangan jantung secara tiba-tiba. Pemanasan berperan penting dalam mempersiapkan tubuh terhadap lonjakan aktivitas fisik, sedangkan pendinginan membantu menormalkan kembali detak jantung dan ritme pernapasan secara bertahap. Jika kedua proses ini diabaikan, jantung dapat mengalami tekanan mendadak baik saat mulai berlari maupun saat berhenti yang bisa memicu gangguan irama jantung dan berpotensi berbahaya, khususnya bagi individu dengan kondisi jantung yang tidak terdeteksi.
Dehidrasi
Dehidrasi saat berlari tak hanya menyebabkan tubuh cepat lelah, tetapi juga bisa memberi tekanan besar pada kerja jantung. Ketika asupan cairan berkurang, volume darah ikut menurun, sehingga jantung dipaksa memompa lebih keras untuk mencukupi kebutuhan oksigen tubuh. Hal ini dapat meningkatkan denyut jantung secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan elektrolit yang penting untuk menjaga irama jantung tetap stabil. Dalam kondisi ekstrem, terutama saat berlari dalam cuaca panas atau waktu yang lama tanpa cukup minum, dehidrasi bisa menjadi pemicu serangan jantung mendadak.
Stres dan kurang istirahat
Stres yang terus-menerus dan kurangnya waktu istirahat dapat menurunkan daya tahan tubuh, termasuk memengaruhi kesehatan jantung. Ketika tubuh tidak memiliki kesempatan untuk pulih, produksi hormon stres seperti kortisol meningkat, yang dapat menyebabkan tekanan darah naik dan detak jantung menjadi tidak teratur. Jika kondisi ini berlangsung dan ditambah dengan aktivitas fisik berat seperti berlari, jantung akan bekerja jauh lebih keras dari biasanya. Perpaduan antara kelelahan fisik dan beban mental ini bisa memicu risiko serangan jantung mendadak saat berolahraga.
Gangguan irama jantung (Aritmia)
Aritmia, atau gangguan irama jantung, terjadi ketika detak jantung berjalan terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Saat berlari, beban kerja jantung meningkat secara alami, dan jika aritmia tidak terdeteksi sebelumnya, aktivitas ini bisa memperparah kondisi tersebut. Ketidakteraturan irama jantung dapat menghambat aliran darah ke organ vital seperti otak dan jantung, yang berisiko menyebabkan pingsan, henti jantung, bahkan kematian mendadak. Oleh karena itu, pemeriksaan jantung secara berkala sangat disarankan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat jantung atau sering mengalami jantung berdebar saat berolahraga.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.