Fimela.com, Jakarta Banyak orang beranggapan bahwa masalah asam lambung semata-mata disebabkan oleh makanan yang kita konsumsi. Namun, tahukah kamu bahwa kebiasaan yang dilakukan setelah makan juga dapat berdampak besar pada kondisi lambung kita? Tanpa kita sadari, ada beberapa aktivitas ringan yang tampaknya remeh, tetapi justru dapat memicu naiknya asam lambung, menimbulkan gejala seperti nyeri di ulu hati, mual, hingga sensasi terbakar di dada.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga kebiasaan umum yang kerap dilakukan setelah makan dan ternyata dapat memperburuk kondisi asam lambung. Mengetahui dan menghindari kebiasaan ini sangat penting, terutama bagi kamu yang memiliki riwayat maag atau GERD.
Dengan sedikit perubahan dalam gaya hidup, kamu bisa menjaga kesehatan pencernaan dan menghindari rasa tidak nyaman yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bagi sebagian orang, tak makan seharian karena puasa adalah hal yang bisa dijalani dengan baik tanpa keluhan apapun selain lapar dan haus biasa. Beda cerita dengan orang yang memiliki penyakit maag dan GERD. Berikut tips agar pengidap maag dan GERD d...
1. Langsung Tidur Setelah Makan
Setelah menikmati hidangan lezat, mungkin godaan untuk segera berbaring atau tidur sangatlah kuat. Namun, kebiasaan ini ternyata bisa merugikan kesehatan lambung kita. Ketika tubuh dalam posisi mendatar, gravitasi tidak dapat bekerja dengan optimal untuk menjaga isi lambung tetap di tempatnya. Akibatnya, isi lambung bisa dengan mudah naik ke kerongkongan, menyebabkan asam lambung mencapai bagian atas saluran pencernaan dan menimbulkan sensasi perih atau terbakar di dada, yang dikenal sebagai heartburn.
Menurut Mayo Clinic, penyakit gastroesophageal reflux (GERD) sering kali dipicu oleh posisi tubuh setelah makan, terutama jika kita langsung berbaring. Untuk mencegah hal ini, disarankan agar kita menunggu setidaknya dua hingga tiga jam sebelum tidur setelah makan. Ini memberi waktu yang cukup bagi proses pencernaan untuk bekerja dengan optimal dan mencegah refluks asam.
Tidak hanya menghindari GERD, dengan duduk tegak atau berjalan santai setelah makan, kita juga membantu proses pengosongan lambung berjalan lebih baik. Aktivitas ringan ini memperlancar sistem pencernaan dan mencegah penumpukan tekanan di dalam perut. Jadi, jika kamu sering makan malam larut dan langsung berbaring, ada baiknya mulai mengubah kebiasaan ini agar terhindar dari masalah lambung kronis.
2. Merokok Setelah Makan
Setelah menikmati hidangan lezat, beberapa orang mungkin merasa merokok bisa memberikan rasa tenang. Namun, kebiasaan ini sebenarnya memiliki dampak langsung pada sistem pencernaan kita. Nikotin dalam rokok dapat melemahkan lower esophageal sphincter (LES), yaitu katup yang memisahkan lambung dan kerongkongan. Ketika katup ini melemah, asam lambung bisa lebih mudah naik ke kerongkongan, memicu gejala refluks.
Mengutip National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), merokok diketahui memperparah gejala GERD. Hal ini terjadi karena merokok mengurangi kemampuan LES untuk menjaga isi lambung tetap di tempatnya. Selain itu, merokok juga dapat mengurangi produksi saliva yang seharusnya membantu menetralkan asam di kerongkongan.
Kombinasi antara makanan yang baru saja dikonsumsi dan paparan nikotin membuat lambung harus bekerja lebih keras, meningkatkan produksi asam dan melemahkan pengaturannya. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki masalah dengan asam lambung, sangat disarankan untuk menghindari merokok, terutama dalam waktu satu jam setelah makan.
3. Minum Kopi atau Teh Langsung Setelah Makan
Setelah menikmati hidangan, meminum kopi atau teh yang mengandung kafein bisa memicu asam lambung naik. Hal ini disebabkan oleh kafein dan senyawa dalam kopi yang dapat mengurangi tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah (LES), yaitu katup yang berfungsi mencegah naiknya asam lambung ke kerongkongan. Ketika tekanan LES berkurang, isi lambung lebih mudah naik kembali, menimbulkan sensasi panas atau nyeri di dada.
Penelitian manometri klasik oleh Thomas et al. (1980) yang diterbitkan dalam jurnal Gastroenterology mengungkapkan bahwa mengonsumsi 150ml kopi berkafein, baik yang bersifat asam (pH 4,5) maupun netral (pH 7,0), dapat secara signifikan menurunkan tekanan LES hingga 60 menit setelah diminum. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kopi bisa menjadi pemicu utama refluks asam, terutama jika diminum berdekatan dengan waktu makan.
Selain itu, sebuah ulasan dalam jurnal Nutrients (2021) menyebutkan bahwa kopi berpotensi mengurangi tekanan LES dan meningkatkan produksi asam lambung, dua faktor yang dapat memicu heartburn. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko refluks, disarankan untuk memberi jeda waktu antara konsumsi kopi atau teh berkafein dengan waktu makan setidaknya 1-2 jam, atau memilih alternatif seperti teh herbal tanpa kafein, seperti chamomile, yang lebih ramah bagi sistem pencernaan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.