Intip Perdebatan Kontroversial Maafaat Konsumsi Rutin Minyak Kelapa Secara Berlebihan Bagi Tubuh

3 weeks ago 23

ringkasan

  • Minyak kelapa memiliki kandungan lemak jenuh sangat tinggi, melebihi lemak babi, yang dapat meningkatkan kolesterol LDL atau 'jahat'.
  • Organisasi kesehatan AS merekomendasikan pembatasan konsumsi minyak kelapa dan penggantian dengan minyak tak jenuh untuk kesehatan jantung.
  • Meskipun ada klaim manfaat lain seperti efek antimikroba atau oil pulling, bukti ilmiah pendukungnya masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, minyak kelapa telah menjadi sorotan utama dalam dunia kesehatan dan gaya hidup selama beberapa tahun terakhir. Banyak yang memujinya karena beragam manfaat, mulai dari perawatan kulit hingga potensi dampaknya pada metabolisme tubuh.

Namun, di balik popularitasnya, pandangan para ahli kesehatan di Amerika Serikat justru cenderung lebih berhati-hati, terutama terkait perannya dalam kesehatan jantung. Dilansir dari berbagai sumber, perdebatan mengenai manfaat konsumsi rutin minyak kelapa ini kian memanas di kalangan pakar gizi.

Apa sebenarnya fakta di balik klaim-klaim ini? Mari kita telusuri lebih dalam berdasarkan penelitian dan rekomendasi dari berbagai organisasi kesehatan terkemuka di AS untuk memahami posisi minyak kelapa dalam pola makan sehat kita.

Dampak Minyak Kelapa pada Kesehatan Jantung dan Kolesterol

Salah satu perhatian utama para ahli kesehatan adalah kandungan lemak jenuh yang sangat tinggi dalam minyak kelapa. Minyak ini 100% adalah lemak, dengan 80-90% di antaranya merupakan lemak jenuh. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan lemak babi atau tetesan daging sapi. Satu sendok makan minyak kelapa saja bisa mengandung 10-14 gram lemak jenuh, tergantung mereknya.

American Heart Association (AHA) dan Mayo Clinic secara konsisten memperingatkan bahwa minyak kelapa dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau 'jahat'. Peningkatan kolesterol LDL ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung. Bahkan dibandingkan dengan minyak sawit, minyak kelapa terbukti lebih meningkatkan kolesterol LDL.

Meskipun beberapa penelitian menunjukkan minyak kelapa juga dapat meningkatkan kolesterol HDL ('baik'), AHA menegaskan bahwa peningkatan HDL melalui diet atau obat tidak secara langsung menurunkan risiko penyakit jantung. Oleh karena itu, dampak peningkatan LDL jauh lebih signifikan daripada potensi manfaat peningkatan HDL.

Organisasi kesehatan terkemuka di AS, seperti AHA dan Pedoman Diet untuk Orang Amerika, merekomendasikan pembatasan asupan lemak jenuh. Berikut adalah beberapa rekomendasi kunci:

  • American Heart Association (AHA) menyarankan penggantian lemak jenuh dengan minyak nabati tak jenuh, seperti minyak zaitun, minyak kacang tanah, atau minyak jagung, untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular hingga 30%.
  • Pedoman Diet untuk Orang Amerika 2020-2025 merekomendasikan pembatasan konsumsi lemak jenuh hingga kurang dari 10% dari total kalori harian.
  • AHA bahkan merekomendasikan batas yang lebih ketat, yaitu tidak lebih dari 13 gram lemak jenuh per hari.
  • Mayo Clinic menyarankan 'pembeli berhati-hatilah' ketika mempertimbangkan minyak kelapa, terutama terkait kesehatan jantung Anda.

Menguak Klaim Manfaat Lain dan Kontroversi Minyak Kelapa

Di luar perdebatan tentang kesehatan jantung, minyak kelapa juga diklaim memiliki berbagai manfaat lain. Minyak ini kaya akan trigliserida rantai menengah (MCTs), sejenis lemak jenuh yang berbeda dari lemak jenuh pada umumnya.

Beberapa studi awal menunjukkan bahwa suplementasi MCT dapat membantu penurunan berat badan, BMI, dan lingkar pinggang, terutama dalam diet ketogenik rendah kalori. Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian tentang MCT tidak dapat langsung diekstrapolasi ke minyak kelapa secara keseluruhan karena komposisi trigliserida yang berbeda.

Minyak kelapa juga dikenal memiliki sifat antimikroba dan antijamur, terutama berkat kandungan asam lauratnya. Asam laurat, yang merupakan sekitar 50% dari MCT dalam minyak kelapa, berpotensi melawan mikroorganisme penyebab penyakit seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans.

Selain itu, praktik 'oil pulling' dengan minyak kelapa juga populer untuk kesehatan mulut. Penelitian menunjukkan bahwa ini dapat mengurangi jumlah bakteri dalam air liur, seperti yang terlihat pada studi tahun 2016 yang menunjukkan penurunan signifikan S. mutans dalam 2 minggu. Namun, American Dental Association (ADA) menyatakan bahwa tidak ada bukti kuat yang mendukung oil pulling sebagai pengganti sikat gigi dan flossing rutin, yang tetap menjadi standar emas perawatan mulut.

Minyak kelapa juga sering digunakan sebagai pelembap alami untuk kulit dan rambut, membantu meningkatkan kilau dan melindungi dari kerusakan. Ada pula klaim tentang kemampuannya sebagai pengusir nyamuk, meskipun bukti ilmiah yang mendukungnya masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Persepsi Publik vs. Pandangan Ahli: Sebuah Kontroversi Abadi

Perbedaan pandangan antara publik dan ahli gizi mengenai minyak kelapa sangat mencolok. Sebuah survei menunjukkan bahwa 72% orang Amerika menganggap minyak kelapa 'sehat', sementara hanya 37% ahli gizi yang setuju dengan pandangan tersebut.

Kontroversi ini semakin memuncak ketika Karin Michels, seorang profesor dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, secara blak-blakan menyebut minyak kelapa sebagai 'racun murni' dan 'salah satu makanan terburuk yang bisa Anda makan'. Peringatan ini didasarkan pada proporsi lemak jenuh yang sangat tinggi, yang secara ilmiah terbukti meningkatkan kolesterol LDL dan risiko penyakit kardiovaskular.

Meskipun banyak klaim manfaat beredar, seperti untuk penurunan berat badan atau penyakit Alzheimer, para ilmuwan menekankan bahwa belum ada cukup bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim-klaim ini. Kebanyakan klaim didasarkan pada potensi manfaat MCTs, bukan minyak kelapa secara keseluruhan.

Oleh karena itu, Sahabat Fimela, penting untuk selalu merujuk pada sumber informasi yang kredibel dan hasil penelitian yang telah teruji. Konsensus dari organisasi kesehatan terkemuka di AS adalah untuk berhati-hati dalam mengonsumsi minyak kelapa dan lebih memilih minyak nabati tak jenuh yang terbukti lebih sehat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Adinda Tri Wardhani

    Author

    Adinda Tri Wardhani
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |