Flu Bukan Satu-Satunya, Ini 7 Penyakit yang Sering Mengintai Anak Muda

2 weeks ago 20

Fimela.com, Jakarta Banyak yang beranggapan bahwa penyakit berat hanya menghampiri saat usia menua. Namun, tren beberapa tahun belakangan justru menunjukkan peningkatan kasus penyakit kronis dan gangguan kesehatan serius di kalangan anak muda, mulai dari remaja hingga usia 30-an. Gaya hidup yang serba cepat, kurangnya aktivitas fisik, serta konsumsi makanan yang tinggi gula dan lemak menjadi faktor penyebab utamanya.

Anak muda sering kali mengabaikan sinyal dari tubuh mereka karena merasa masih bugar dan kuat. Gejala ringan seperti mudah lelah, sakit kepala, atau masalah pencernaan sering dianggap remeh dan diabaikan. Padahal, gejala-gejala tersebut bisa menjadi pertanda awal dari gangguan kesehatan serius yang memerlukan perhatian medis. Minimnya pemeriksaan kesehatan rutin dan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat semakin memperburuk situasi ini.

Menurut berbagai penelitian kesehatan, gaya hidup yang kurang aktif dan konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan sangat berkontribusi terhadap risiko penyakit metabolik dan degeneratif. Banyak anak muda yang sudah mengalami hipertensi, diabetes tipe 2, bahkan kolesterol tinggi di usia 20-an. Ini membuktikan bahwa penyakit tidak lagi memandang usia.

Artikel ini akan mengulas tujuh penyakit yang sering menyerang anak muda, lengkap dengan gejala, penyebab, dan cara pencegahannya berdasarkan sumber kredibel seperti jurnal The Lancet, WHO, dan riset kesehatan dari Kemenkes RI.

Di AS seperti juga di banyak negara lain, peran media sosial dan dampaknya pada kesehatan mental terus menjadi sorotan, terutama bagi pengguna termuda. Beragam restriksi hingga gugatan menuntut perusahaan media sosial lebih proaktif mencegah perundun...

1. Dispepsia atau Gangguan Lambung

Dispepsia, atau yang lebih dikenal sebagai gangguan lambung fungsional, kini semakin sering dikeluhkan oleh kalangan muda. Penyebab utamanya adalah kebiasaan makan yang tidak teratur, stres, konsumsi kafein berlebihan, serta sering mengonsumsi makanan pedas atau asam. Gejala yang paling umum dialami meliputi perut kembung, mual, cepat merasa kenyang, dan sensasi panas di ulu hati. Walaupun tidak berbahaya, kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas.

Penelitian dalam jurnal BMJ Open Gastroenterology, sekitar 15-20% anak muda mengalami dispepsia yang disebabkan oleh gaya hidup urban. Nyeri lambung sering kali muncul saat bekerja atau ketika begadang. Jika tidak ditangani dengan baik, dispepsia dapat berkembang menjadi GERD atau gastritis kronis.

Solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menjaga pola makan yang teratur, menghindari makanan yang dapat memicu gejala, serta mengelola stres dengan efektif. Meskipun obat lambung dapat membantu meredakan gejala, perubahan gaya hidup tetap menjadi kunci utama dalam penanganan dispepsia.

2. Kolesterol Tinggi

Jangan salah sangka, kolesterol tinggi bukan hanya masalah bagi orang tua. Banyak anak muda juga menghadapi kadar kolesterol LDL (jahat) yang tinggi akibat kebiasaan mengonsumsi gorengan, makanan cepat saji, dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini didukung oleh penelitian dari National Institutes of Health (NIH) yang menunjukkan peningkatan prevalensi dislipidemia pada kelompok usia 20-30 tahun.

Kolesterol tinggi bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, yang berpotensi mengarah pada stroke atau penyakit jantung. Yang mengkhawatirkan, kolesterol tinggi sering kali tidak menunjukkan gejala hingga sudah terlambat. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah melalui pemeriksaan laboratorium.

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh, meningkatkan asupan serat, dan rutin berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari dapat membantu menjaga kadar kolesterol tetap normal.

3. Diabetes Tipe 2

Diabetes bukanlah penyakit yang hanya menyerang orang tua; anak muda pun bisa mengalaminya, terutama jika mereka sering mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta jarang berolahraga. Kebiasaan ini dapat menyebabkan resistensi insulin yang berujung pada diabetes tipe 2. Menurut WHO, dalam dua dekade terakhir, angka kejadian diabetes di kalangan usia produktif meningkat secara signifikan.

Gejala awal seperti sering merasa haus, sering buang air kecil, dan mudah lapar kerap diabaikan. Banyak anak muda baru menyadari mereka menderita diabetes setelah mengalami komplikasi seperti penglihatan yang mulai kabur atau luka yang sulit sembuh. Padahal, jika terdeteksi sejak dini, diabetes dapat dikelola dengan lebih baik.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengurangi asupan gula tambahan, menjaga berat badan tetap ideal, dan rutin memeriksa kadar gula darah—setidaknya sekali setahun bagi mereka yang berisiko.

4. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Hipertensi sering disebut sebagai pembunuh diam-diam karena gejalanya yang kerap tidak terasa. Kini, hipertensi tidak lagi hanya menjadi masalah bagi orang tua. Generasi muda, terutama mereka yang berada di bawah tekanan kerja tinggi, kurang tidur, dan sering mengonsumsi makanan asin, juga berisiko tinggi terkena kondisi ini.

Penelitian Journal of Hypertension menunjukkan bahwa ada peningkatan prevalensi hipertensi dini pada kelompok usia 25 hingga 35 tahun. Gaya hidup modern, seperti kebiasaan begadang dan stres berkepanjangan, menjadi faktor pemicunya. Gejala seperti sakit kepala, kelelahan, atau detak jantung yang cepat sering kali dianggap sepele.

Untuk mencegahnya, penting untuk rutin memeriksa tekanan darah, membatasi asupan garam, serta mengelola stres melalui relaksasi atau olahraga ringan. Langkah-langkah ini dapat menjadi cara efektif untuk menjaga kesehatan jantung Anda.

5. Anemia Defisiensi Zat Besi

Anemia sering kali menjadi masalah bagi kaum muda, terutama perempuan dalam usia produktif. Penyebab utamanya adalah kurangnya asupan zat besi dari makanan, menstruasi yang berat, atau pola diet yang terlalu ekstrem. Gejala-gejala yang muncul meliputi rasa lelah yang berkepanjangan, kulit pucat, pusing, dan kesulitan dalam berkonsentrasi.

Menurut jurnal Haematologica, anemia ringan yang tidak segera ditangani dapat berdampak negatif pada prestasi akademik dan kinerja di tempat kerja. Selain itu, anemia juga dapat melemahkan daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi.

Untuk mencegah kondisi ini, disarankan untuk memperbanyak konsumsi makanan yang kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam, bayam, dan kacang-kacangan. Jika diperlukan, konsumsi suplemen zat besi atas rekomendasi dokter juga dapat menjadi pilihan.

6. Gangguan Kecemasan dan Depresi

Generasi muda saat ini menghadapi risiko yang signifikan terhadap gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. Faktor-faktor seperti tekanan akademis, beban pekerjaan, dan perbandingan sosial di dunia digital menjadi penyebab utama dari masalah ini. Menurut data dari National Institute of Mental Health, 1 dari 3 remaja mengalami gangguan kecemasan.

Gejala yang muncul bisa beragam, mulai dari kesulitan tidur, mudah marah, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, hingga perasaan tidak berharga. Gangguan mental ini tidak hanya mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup, tetapi juga dapat mengarah pada perilaku menyakiti diri sendiri.

Untuk menangani masalah ini, terapi psikologis seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy), konseling, atau jika diperlukan, pengobatan dari psikiater dapat menjadi solusi. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat krusial dalam proses pemulihan.

7. Masalah Kesehatan Tulang dan Sendi

Meskipun sering dikaitkan dengan orang lanjut usia, masalah sendi dan tulang seperti nyeri punggung, skoliosis, atau saraf terjepit kini semakin banyak dialami oleh generasi muda. Kebiasaan duduk terlalu lama di depan layar, postur tubuh yang buruk saat belajar atau bekerja, serta kurangnya aktivitas fisik dapat melemahkan struktur tulang.

American Academy of Orthopaedic Surgeons mengungkapkan bahwa 60% dari mereka yang berusia 20-an pernah merasakan nyeri punggung bawah akibat postur tubuh yang tidak baik dan gaya hidup yang kurang aktif. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi degenerasi tulang belakang pada usia dini.

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menjaga postur tubuh yang benar, menggunakan kursi yang ergonomis, rutin melakukan peregangan, serta berolahraga ringan seperti yoga atau berenang untuk memperkuat otot-otot yang mendukung tulang.

Kesimpulan: Anak Muda Juga Rentan Sakit, Cegah Sejak Dini

Penyakit kini tak lagi memandang usia. Meski flu dan batuk sering dianggap biasa, banyak anak muda kini menghadapi ancaman penyakit metabolik, mental, dan kronis yang sebelumnya lebih umum dialami oleh orang tua. Rendahnya kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat menjadi penyebab utama semakin cepatnya kemunculan penyakit-penyakit ini.

Deteksi dini dan perubahan gaya hidup adalah kunci utama. Anak muda harus lebih menyadari betapa pentingnya menjaga pola makan yang seimbang, rutin beraktivitas fisik, mencukupi kebutuhan tidur, dan menjaga kesehatan mental. Pemeriksaan kesehatan secara rutin juga sangat penting, meskipun tubuh terasa bugar.

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Mulailah dengan langkah-langkah sederhana: kurangi konsumsi gorengan, perbanyak minum air putih, berolahraga secara teratur, dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter ketika tubuh memberikan sinyal yang tidak biasa. Dengan menjaga kesehatan di masa muda, masa depan yang lebih kuat pun bisa diraih.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Ricka Milla Suatin
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |