ringkasan
- Yo-yo dieting dapat merusak metabolisme tubuh, mengurangi massa otot, dan mengganggu hormon lapar, menyebabkan penambahan lemak yang tidak sehat.
- Siklus berat badan ini meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serius seperti serangan jantung dan stroke, serta memperbesar peluang terkena diabetes tipe 2.
- Selain dampak fisik, yo-yo dieting juga memicu masalah psikologis seperti penurunan harga diri, depresi, dan citra tubuh negatif, meskipun ada beberapa studi yang menunjukkan hasil bervariasi.
Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, seringkali kita terjebak dalam siklus diet yang tidak sehat, di mana berat badan turun drastis lalu kembali naik dengan cepat. Fenomena yang dikenal sebagai yo-yo dieting ini ternyata bukan sekadar masalah penampilan, melainkan memiliki dampak serius bagi kesehatan fisik dan mental kita.
Pola diet yang tidak berkelanjutan ini umumnya terjadi karena pendekatan yang terlalu ekstrem atau kurangnya pemahaman tentang kebutuhan nutrisi tubuh. Akibatnya, tubuh mengalami fluktuasi berat badan yang berulang, memicu serangkaian respons negatif dari dalam.
Memahami bagaimana efek negatif dari yo-yo diet yang sangat penting agar kita dapat mengambil langkah yang tepat. Dilansir dari berbagai sumber, kita akan mengupas tuntas bahaya tersembunyi di balik kebiasaan diet yang tidak konsisten, berdasarkan berbagai penelitian dan data terkini.
Dampak pada Metabolisme dan Komposisi Tubuh
Salah satu area yang paling terpengaruh oleh yo-yo dieting adalah sistem metabolisme tubuh. Siklus penurunan dan penambahan berat badan yang berulang dapat secara signifikan mengganggu efisiensi tubuh dalam membakar kalori. Penurunan berat badan yang cepat cenderung menghilangkan massa otot, yang merupakan komponen penting dalam pembakaran kalori.
Ketika berat badan kembali naik setelah diet, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak daripada otot. Ini berarti persentase lemak tubuh secara keseluruhan akan meningkat, meskipun berat badan mungkin kembali ke angka semula. Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit untuk membakar kalori secara efisien di kemudian hari, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Lebih lanjut, yo-yo dieting juga memengaruhi keseimbangan hormon lapar seperti leptin dan ghrelin. Ketidakseimbangan hormon ini menyebabkan Sahabat Fimela lebih sulit merasa kenyang dan meningkatkan keinginan untuk makan berlebihan. Penurunan massa otot selama diet juga membuat tubuh cenderung menghemat energi, memperlambat metabolisme basal Anda secara permanen.
Risiko Penyakit Kardiovaskular
Dampak serius lain dari yo-yo dieting adalah peningkatan risiko masalah jantung dan pembuluh darah. Studi menunjukkan bahwa fluktuasi berat badan yang sering, atau weight cycling, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan kematian jantung mendadak, terutama pada wanita dewasa.
Sebuah penelitian besar bahkan menemukan bahwa wanita yang melaporkan riwayat yo-yo dieting memiliki peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 66 persen. Semakin sering berat badan naik turun dan semakin besar ayunannya, semakin tinggi pula risiko Sahabat Fimela mengalami masalah serius seperti angina, serangan jantung, dan stroke.
Bagi pasien jantung, fluktuasi berat badan berulang kali dikaitkan dengan hasil yang jauh lebih buruk, termasuk peningkatan risiko kematian. Data menunjukkan bahwa fluktuasi berat badan yang sering dapat meningkatkan risiko serangan jantung sebesar 117 persen, stroke sebesar 136 persen, dan kemungkinan kematian sebesar 124 persen.
Risiko Diabetes Tipe 2
Siklus berat badan yang tidak stabil juga dapat meningkatkan peluang seseorang mengembangkan diabetes tipe 2. Yo-yo dieting berpotensi menyebabkan resistensi insulin, suatu kondisi di mana tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efisien untuk mengatur kadar gula darah.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2017 di The New England Journal of Medicine, individu dengan fluktuasi berat badan yang dramatis memiliki kemungkinan 78 persen lebih besar untuk mengembangkan diabetes tipe 2. Ini terjadi dalam periode sekitar lima tahun dibandingkan dengan mereka yang berat badannya lebih stabil.
Resistensi insulin ini membuat pankreas bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kelelahan pankreas dan perkembangan diabetes tipe 2. Oleh karena itu, menjaga berat badan yang stabil jauh lebih penting daripada siklus diet ekstrem.
Dampak Fisik dan Psikologis Lainnya
Selain dampak utama di atas, yo-yo dieting juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan fisik lainnya. Kebiasaan ini dapat menyebabkan hati berlemak, tekanan darah tinggi, dan gangguan pada mikrobioma usus. Perubahan pada bakteri usus ini bisa memengaruhi pencernaan dan bahkan sistem kekebalan tubuh.
Secara psikologis, fluktuasi berat badan yang konstan dapat secara signifikan menurunkan harga diri dan menumbuhkan rasa kegagalan. Beban mental dari pola makan yang membatasi diikuti dengan makan berlebihan sangat melelahkan secara emosional, seringkali menimbulkan perasaan bersalah, malu, dan frustrasi pada Sahabat Fimela.
Yo-yo dieting juga dikaitkan dengan peningkatan gejala depresi dan ide bunuh diri, serta kepuasan tubuh yang lebih rendah. Orang dewasa dengan riwayat yo-yo dieting sering melaporkan merasa tidak puas dengan hidup dan kesehatan mereka secara keseluruhan, menunjukkan dampak mendalam pada kesejahteraan mental.
Perspektif Berbeda: Nuansa dalam Penelitian
Meskipun banyak bukti menunjukkan dampak negatif yo-yo dieting, penting untuk dicatat bahwa beberapa penelitian menyajikan hasil yang bervariasi. Sebuah studi dari Fred Hutchinson Cancer Research Center pada tahun 2012, misalnya, menunjukkan bahwa riwayat yo-yo dieting tidak secara negatif memengaruhi metabolisme atau kemampuan menurunkan berat badan dalam jangka panjang.
Beberapa penelitian lain juga tidak menemukan hubungan yang jelas antara weight cycling dan peningkatan risiko kondisi seperti diabetes tipe 2, hipertensi, atau penyakit jantung. Bahkan, dari studi yang meneliti risiko diabetes tipe 2, mayoritas (76 persen) menyimpulkan bahwa weight cycling tidak meningkatkan kadar gula darah atau risiko diabetes tipe 2.
Namun, penting untuk melihat konteks dari setiap penelitian. Studi tahun 2012 yang disebutkan di atas membedakan penurunan berat badan yang disengaja dari yang disebabkan oleh penyakit. Di sisi lain, studi yang lebih baru pada tahun 2018 menemukan bahwa weight cycling memang dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Ini menunjukkan kompleksitas topik dan pentingnya konsultasi dengan ahli gizi atau dokter untuk mendapatkan saran yang tepat.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.