Event Lari: Tren Hidup Sehat atau Sekadar FOMO bagi Gen Z?

1 month ago 29

Fimela.com, Jakarta Dulu dikenal sebagai olahraga murah dan simpel, kini lari berkembang menjadi gaya hidup yang tak lepas dari gengsi dan tren sosial, terutama di kalangan Gen Z. Event-event lari yang sebelumnya lebih akrab dengan atlet profesional, kini ramai diikuti komunitas hingga individu lintas usia. Bahkan, generasi muda seakan menjadikan ajang lari sebagai “panggung” untuk menunjukkan eksistensi dan kesadaran akan kesehatan atau justru sekadar ikut-ikutan alias FOMO?

Sepanjang tahun 2024 saja, tercatat ada 257 event lari yang digelar di berbagai wilayah Indonesia angka ini melonjak lebih dari 60% dibanding tahun sebelumnya. Dengan partisipasi yang terus meningkat, dominasi peserta dari kalangan Gen Z dan milenial terlihat mencolok, dengan rasio 2:1. 

Menurut kalenderlari.com setiap akhir pekan selalu ada agenda lari. Bahkan kemarin (27/7) ada sekitar 8 event lari. Mulai dari 5K hingga 10K. Terbayang, kan bagaimana keseruannya? Antusiasme yang menggebu ini turut mempopulerkan event-event besar seperti Jakarta Marathon, POCARI SWEAT Run, hingga Borobudur Marathon, yang setiap tahunnya mencatat lonjakan jumlah peserta.

Benarkah Ingin Hidup Sehat?

Data menarik diberikan oleh aplikasi Garmin Connect. Menurut data Desember 2024, tercatat 142.975 aktivitas lari yang meningkat menjadi 175.969 aktivitas di April 2025. Bahkan, angka ini melonjak signifikan menjadi 242.627 aktivitas lari pada Mei 2025. Lonjakan ini menjadikan lari sebagai salah satu olahraga dengan pertumbuhan sosial tercepat di Indonesia.

Tak sedikit yang menganggap fenomena ikut event lari hanya sekadar tren musiman atau bentuk FOMO. Outfit lari yang stylish, pamer medali finisher di media sosial, hingga unggahan selfie pasca lari kadang membuat ajang ini terlihat lebih sebagai gaya hidup sosial ketimbang komitmen olahraga.

Namun, di balik euforia tersebut ada efek positif yang tidak bisa diabaikan. Meski niat awal sekadar ikut-ikutan, banyak Gen Z akhirnya menjadikan lari sebagai bagian dari rutinitas sehat mereka. Keikutsertaan dalam event lari memicu kesadaran akan pentingnya kebugaran, membangun kebiasaan olahraga, serta memperluas koneksi sosial dalam komunitas yang suportif.

Tren Lari dan Konsumsi Produk

Siapa sangka, dari sebuah aktivitas sederhana seperti lari, muncul pergerakan ekonomi yang sangat dinamis. Dulu dianggap olahraga murah meriah, kini lari telah menjelma menjadi gaya hidup yang melibatkan banyak sektor industri mulai dari pariwisata, fashion olahraga, hingga teknologi digital.

Ketika sebuah event lari diselenggarakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para peserta. Kota tempat berlangsungnya acara akan dipenuhi oleh pelari dari luar daerah, yang otomatis mendorong kebutuhan akan hotel, restoran, transportasi, hingga produk lokal. Dari sinilah ekonomi lokal mulai bergerak. UMKM ikut kecipratan berkah, dari penjual makanan, penyedia jasa, hingga pengrajin suvenir khas daerah.

Di sisi lain, meningkatnya minat masyarakat terhadap lari juga membuka pasar baru bagi industri gaya hidup sehat. Sepatu lari, baju berbahan quick-dry, smartwatch, hingga minuman elektrolit kini menjadi bagian penting dari perlengkapan pelari. Brand-brand besar pun berlomba-lomba menjadi sponsor event lari sebagai cara menjangkau generasi muda yang aktif dan sadar kesehatan.

Lebih jauh lagi, lari juga memicu berkembangnya ekosistem digital. Aplikasi seperti Garmin Connect, Strava, dan Nike Run Club menjadi sarana pemantau performa sekaligus jejaring sosial bagi para pelari. Influencer lari pun bermunculan, membuka peluang baru di bidang promosi, endorsement, dan konten digital.

Namun yang paling penting, di balik semua itu, kebiasaan lari juga berdampak positif pada ekonomi nasional dalam jangka panjang. Masyarakat yang lebih sehat berarti menurunnya beban biaya kesehatan akibat penyakit tidak menular seperti jantung dan diabetes. Produktivitas pun meningkat, karena tubuh yang bugar juga memengaruhi daya kerja dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Jadi, apakah event lari sekadar ajang FOMO atau gerakan hidup sehat? Mungkin jawabannya adalah keduanya. Tapi yang pasti, tren ini telah membuka jalan bagi generasi muda untuk lebih aktif bergerak. Dan kalau “ikut-ikutan” bisa berujung pada gaya hidup yang lebih sehat maka tidak ada salahnya berlari, meski dimulai karena FOMO.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |