Fimela.com, Jakarta Tidak semua kegelisahan datang dengan wajah yang kusut atau tubuh yang lunglai. Ada yang justru menyembunyikannya di balik senyum hangat, prestasi yang mengagumkan, dan kehidupan yang tampak teratur. Hanya saja, terkadang, di balik layar yang rapi itu, ada pikiran yang berputar tanpa henti, tubuh yang tegang, dan perasaan was-was yang mengganggu.
High functioning anxiety bukanlah sekadar "cemas tapi masih bisa bekerja", melainkan persoalan sulit dan rumit dalam menyeimbangkan dua dunia: dunia luar yang terkesan penuh kendali dan dunia dalam yang kerap bergejolak. Kali ini kita akan membahas tujuh tanda umum high functioning anxiety seperti yang dirangkum dari laman Montare Behavioral Health. Simak uraiannya di bawah ini, ya.
1. Standar yang Kelewat Tinggi untuk Digapai
Bagi banyak orang, menetapkan target tinggi adalah tanda ambisi. Akan tetapi, bagi mereka yang hidup dengan high functioning anxiety, standar itu sering berada di level nyaris mustahil. Mereka menuntut hasil sempurna bukan karena sekadar ingin unggul, tapi karena takut dicap gagal.
Tekanan itu sering datang bukan dari orang lain, tapi dari suara kritis di dalam diri sendiri. Bahkan ketika sudah meraih pujian, masih ada rasa "kurang" yang mengintai. Kegagalan kecil pun bisa menjadi bahan evaluasi diri yang berlebihan.
Di luar, mereka terlihat disiplin dan profesional. Di dalam, mereka terus-menerus mempertanyakan apakah semua ini sudah cukup. Paradoksnya, justru rasa cemas itu yang mendorong mereka terus bergerak, meski kadang sampai melupakan kesejahteraan diri.
2. Pikiran yang Terjebak dalam Overthinking
Tidak semua kerja keras itu produktif. Pada high functioning anxiety, pikiran seperti mesin yang sulit dimatikan. Mereka membedah detail obrolan semalam, menimbang ulang keputusan yang sudah diambil, atau memikirkan kemungkinan terburuk yang bahkan belum tentu terjadi.
Proses ini sering disebut overthinking. Bagi yang mengalaminya, sulit membedakan antara "memikirkan solusi" dan "terjebak dalam pikiran". Keduanya melebur, membuat otak terasa berat dan waktu terbuang untuk memutar ulang skenario yang sama.
Meski begitu, pikiran yang selalu aktif ini terkadang membuat mereka unggul dalam memprediksi masalah. Hanya saja, kelebihan ini sering datang dengan harga: lelah mental yang tidak terlihat.
3. Menghindar demi Merasa Aman
Bukan berarti tidak berani, tapi sering kali rasa cemas membuat mereka memilih jalur aman. Menolak undangan, menunda bertemu orang baru, atau melewatkan peluang demi menghindari potensi rasa tidak nyaman.
Strategi ini mungkin efektif untuk meredakan kecemasan sesaat. Namun, dalam jangka panjang, bisa membuat dunia mereka semakin sempit. Tantangan yang seharusnya menjadi ajang tumbuh malah berubah menjadi ancaman yang dihindari.
Ironisnya, dari luar mereka tetap terlihat aktif dan ramah. Padahal, di balik itu, ada daftar panjang situasi yang sengaja dihindari demi menjaga kestabilan emosi.
4. Menunda-nunda karena Takut Gagal
Banyak yang mengira penundaan adalah tanda malas. Padahal, pada high functioning anxiety, menunda sering kali lahir dari rasa takut tidak mampu menghasilkan pekerjaan sempurna.
Mereka menunggu momen "terbaik" untuk mulai, yaitu momen yang sering kali tidak pernah datang. Setiap kali ingin memulai, bayangan hasil akhir yang buruk atau penilaian negatif sudah menghantui lebih dulu.
Akhirnya, tugas menumpuk, rasa cemas semakin besar, dan lingkaran ini terus berulang. Meski begitu, mereka tetap berusaha menebusnya dengan bekerja ekstra keras di detik terakhir, menjaga citra sebagai pribadi yang bisa diandalkan.
5. Hasrat Mengendalikan Segalanya Secara Berlebihan
Kendali adalah cara mereka meredakan ketidakpastian. Segala hal, mulai dari jadwal harian, susunan meja kerja, hingga rencana perjalanan disusun dengan teliti untuk memastikan semuanya berjalan sesuai prediksi.
Kontrol ini memberi rasa aman semu. Begitu ada satu hal kecil yang meleset, gelombang kecemasan langsung datang. Mereka akan mengatur ulang segalanya, bahkan jika itu berarti mengorbankan waktu istirahat atau kenyamanan diri.
Meski tampak seperti bentuk kedisiplinan yang mengagumkan, sebenarnya ada rasa takut kehilangan pegangan di baliknya. Seolah, jika satu hal saja berantakan, seluruh sistem akan runtuh.
6. Tubuh Terasa Tegang dan Kaku
High functioning anxiety tidak hanya terjadi di pikiran, tapi juga menetap di tubuh. Bahu yang selalu kaku, kepala yang sering terasa berat, atau perut yang mudah bermasalah adalah bahasa tubuh yang kerap diabaikan.
Gejala fisik ini bukan kebetulan. Ketegangan mental menular ke otot, saraf, dan sistem pencernaan. Hanya saja, karena tetap mampu beraktivitas, banyak yang memilih mengabaikannya hingga menjadi keluhan kronis.
Mereka mungkin jarang mengeluh, tetapi tubuh mereka menyimpan bukti nyata dari beban yang dipikul. Sayangnya, tanda-tanda ini sering baru diakui ketika sudah mengganggu keseharian.
7. Merasa Tidak Pernah Layak atas Pencapaian Sendiri
Meski terlihat sukses, ada bagian dalam diri yang selalu merasa "pura-pura". Inilah yang disebut imposter syndrome, yaitu perasaan tidak layak atas pencapaian sendiri dan takut suatu hari orang lain akan "menemukan" bahwa mereka sebenarnya tidak sepintar yang dikira.
Perasaan ini membuat mereka terus bekerja keras demi membuktikan diri. Akan tetapi, setiap pencapaian baru hanya memberi kepuasan sementara sebelum rasa ragu kembali datang.
Dari luar, mereka adalah sosok inspiratif. Dari dalam, mereka masih bertanya-tanya, "Apakah ini benar-benar karena kemampuan saya, atau hanya keberuntungan semata?"
High functioning anxiety adalah paradoks hidup yang rumit, ketangguhan diri yang tampak di luar sering kali lahir dari pertarungan batin yang melelahkan.
Mengenali tanda-tanda ini bukan untuk membuat insecure, tetapi untuk memahami bahwa tidak semua ketangguhan diri berarti bebas dari rasa cemas. Kadang, kekuatan terbesar justru terlihat ketika seseorang mau mengakui kelemahannya dan mencari cara untuk merawat diri.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.