Fimela.com, Jakarta Dehidrasi adalah suatu keadaan yang sangat serius, di mana tubuh kehilangan cairan dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan yang dikonsumsi, sehingga mengganggu fungsi normalnya. Keadaan ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, yang berkisar dari yang ringan hingga yang cukup parah.
Walaupun rasa haus merupakan sinyal alami dari tubuh untuk mendorong kita minum, ada kalanya seseorang merasa haus terus-menerus tetapi tetap mengalami dehidrasi.
Situasi di mana seseorang merasa haus tanpa henti tetapi tetap mengalami dehidrasi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam tubuh yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Dehidrasi terjadi ketika kehilangan cairan tubuh melebihi asupan, sehingga mengganggu fungsi organ-organ vital.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa beberapa kebiasaan buruk dalam konsumsi air dapat memperburuk kondisi ini, bahkan dapat menyebabkan dehidrasi ringan yang bersifat kronis. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa yang menyebabkan rasa haus yang terus-menerus dan menghindari kesalahan umum dalam menjaga hidrasi, yang menjadi kunci untuk menjaga kesehatan tubuh secara optimal.
Ketidakseimbangan Elektrolit dan Kondisi Medis
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan seseorang terus-menerus minum tetapi tetap mengalami dehidrasi. Elektrolit seperti natrium, klorida, magnesium, dan kalium memiliki peran penting dalam pengangkutan cairan ke dalam sel-sel tubuh. Natasha Trentacosta, seorang spesialis kedokteran olahraga dan ahli bedah ortopedi di Cedars-Sinai Kerlan-Jobe Institute, menyatakan bahwa "elektrolit diperlukan untuk membawa cairan ke sel tubuh." Menurut dietisien Caitlin Self, ketika seseorang mengonsumsi air dalam jumlah banyak tanpa mencukupi asupan elektrolit, maka elektrolit dalam tubuh bisa menjadi terlalu encer dan terbuang banyak, terutama saat berkeringat. Hal ini akan memicu rasa haus, yang mendorong individu untuk minum lebih banyak air, sehingga memperburuk pengenceran elektrolit, seperti yang dikutip dari Byrdie.
Selain masalah ketidakseimbangan elektrolit, ada beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan rasa haus berlebihan meskipun seseorang telah cukup minum. Salah satu contohnya adalah diabetes melitus, yang menyebabkan ginjal memproduksi lebih banyak urine untuk mengeluarkan glukosa berlebih, sehingga memerlukan lebih banyak cairan dan menimbulkan rasa haus yang terus-menerus. Selain itu, konsumsi makanan tertentu seperti makanan pedas atau asin, serta penggunaan beberapa jenis obat-obatan seperti diuretik, antidepresan, dan antipsikotik, juga dapat memicu rasa haus yang tidak kunjung hilang. Kondisi lain seperti kehamilan, gangguan tiroid, dan stres kronis juga dapat berkontribusi pada masalah ini. Terdapat lima kesalahan umum yang sering kita lakukan saat mengonsumsi air, dan berikut adalah beberapa di antaranya:
1. Hanya Minum Saat Haus
Banyak individu hanya mengonsumsi air ketika mereka merasakan haus. Namun, perlu diketahui bahwa rasa haus merupakan indikasi bahwa tubuh telah mulai mengalami kekurangan cairan. Menurut WHO, tubuh idealnya membutuhkan sekitar 2 liter air per hari untuk menjaga keseimbangan cairan.
Jika seseorang hanya mengandalkan sinyal rasa haus, risiko dehidrasi ringan kronis dapat meningkat, yang dapat berdampak negatif dalam jangka panjang. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa mekanisme rasa haus cenderung menjadi kurang responsif seiring bertambahnya usia.
2. Minum Terlalu Cepat
Mengonsumsi air dengan terburu-buru, terutama setelah melakukan aktivitas fisik yang berat, dapat memicu masalah pencernaan serta menyebabkan perut kembung. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat membuat ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring cairan yang masuk ke dalam tubuh.
Menurut Scott Michael Schreiber, seorang spesialis rehabilitasi yang memiliki sertifikasi dewan, "tubuh akan menyerap lebih banyak air jika diminum sepanjang hari daripada sekaligus." Oleh karena itu, disarankan untuk mengonsumsi air dengan perlahan agar tubuh dapat melakukan penyerapan secara optimal dan menjaga kesehatan sistem pencernaan.
3. Melewatkan Minum Setelah Bangun Tidur
Waktu yang ideal untuk mengonsumsi air adalah sesaat setelah kita bangun tidur. Selama 6 hingga 8 jam beristirahat, tubuh kita kehilangan banyak cairan dan membutuhkan asupan kembali.
Menurut ahli gizi Kimberly Snyder, tubuh sering mengalami dehidrasi saat malam. Dengan meminum satu hingga dua gelas air di pagi hari, kita dapat membantu mengaktifkan fungsi organ-organ tubuh, memperlancar proses pencernaan, serta mengeluarkan racun melalui urine, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan energi sepanjang hari.
4. Terlalu Sering Mengonsumsi Minuman Manis atau Berkafein
Banyak individu yang memilih untuk mengonsumsi minuman manis atau bersoda dibandingkan dengan air putih. Namun, minuman tersebut mengandung gula dan bahan kimia yang dapat merusak fungsi ginjal serta menyebabkan dehidrasi.
Minuman yang mengandung kafein atau bersoda memiliki sifat diuretik, yang berarti dapat meningkatkan produksi urine dan membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan. Oleh karena itu, air putih tetap menjadi pilihan yang paling baik untuk menjaga hidrasi tanpa menimbulkan efek samping.
5. Tidak Menyesuaikan Asupan Air dengan Aktivitas dan Cuaca
Kebutuhan air setiap orang berbeda-beda, tergantung pada faktor usia, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi lingkungan sekitar. Ketika seseorang berolahraga atau berada di lingkungan yang panas, tubuh cenderung kehilangan lebih banyak cairan melalui keringat, sehingga penting untuk meningkatkan asupan air.
Namun, penting untuk diingat bahwa minum air terlalu banyak tanpa diimbangi elektrolit dapat menyebabkan pengenceran elektrolit dalam tubuh.Hal ini dapat berakibat pada kram otot, mual, kebingungan, dan bahkan kejang dalam situasi yang lebih serius. Kondisi ini dikenal dengan istilah overhidrasi atau keracunan air, yang memiliki risiko kesehatan yang sama seriusnya dengan dehidrasi.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.