Bimbang Antara Kerja dan Hidup: Tantangan Work-Life Balance Usia 25-an

5 days ago 17

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, usia 25-an seringkali menjadi periode yang penuh tantangan, terutama dalam menyeimbangkan kehidupan kerja dan pribadi. Generasi Milenial dan Gen Z, yang kini mendominasi angkatan kerja, menghadapi tekanan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka berjuang untuk menemukan keseimbangan antara tuntutan karier dan kehidupan pribadi, yang sering kali terasa saling bertentangan.

Dalam era digital saat ini, batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Banyak dari mereka yang menggunakan teknologi untuk mengintegrasikan keduanya, yang dapat menyebabkan stres dan kelelahan. Tantangan ini semakin kompleks dengan ekspektasi tinggi yang mereka miliki terhadap pekerjaan dan kehidupan yang bermakna.

Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh individu berusia 25-an dalam mencapai keseimbangan kehidupan kerja yang sehat.

Batasan yang Buram antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Generasi Milenial dan Gen Z cenderung mengintegrasikan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka sering kali memeriksa email di malam hari atau saat akhir pekan. Hal ini membuat mereka sulit untuk sepenuhnya melepaskan diri dari pekerjaan. Menurut Ryan Jenkins, seorang ahli Milenial dan Gen Z, mereka melihat pekerjaan sebagai "ruang" yang fleksibel, bukan sekadar lokasi fisik.

Integrasi ini, meskipun memberikan fleksibilitas, dapat menyebabkan stres yang berkepanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dari mereka merasa tertekan karena harus selalu siap sedia, sehingga mengganggu waktu pribadi mereka.

Kesehatan Mental dan Kelelahan (Burnout)

Tingkat stres dan kecemasan yang tinggi menjadi masalah utama bagi generasi ini. Sekitar 40% Gen Z dan 34% Milenial melaporkan merasa stres atau cemas sepanjang waktu. Kelelahan (burnout) menjadi hal yang umum, dengan tiga dari empat pekerja Gen Z mengaku merasa kelelahan setidaknya "kadang-kadang".

Dr. Siddhi Yadav, seorang konsultan psikolog, menekankan bahwa kesejahteraan mental adalah tanggung jawab bersama antara karyawan dan organisasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada karyawan yang seharusnya merasa terpaksa mengorbankan kesehatan mereka untuk memenuhi ekspektasi pekerjaan.

Tekanan Finansial dan Ekspektasi Tinggi

Kekhawatiran tentang masa depan finansial, utang mahasiswa, dan biaya hidup yang meningkat juga berkontribusi pada kecemasan. Banyak dari mereka merasa terjebak dalam situasi keuangan yang sulit, sementara ekspektasi terhadap pekerjaan yang bermakna dan fleksibilitas sering kali tidak terpenuhi.

Dr. Angela Lee, seorang psikolog tempat kerja, menjelaskan bahwa generasi ini tidak hanya mencari waktu luang, tetapi juga pendekatan holistik terhadap pekerjaan. Mereka ingin bekerja di perusahaan yang sejalan dengan nilai-nilai mereka dan menawarkan tujuan yang jelas.

Dinamika Tempat Kerja dan Isolasi

Jam kerja yang panjang dan tekanan dari atasan dapat membuat mereka merasa tertekan. Meskipun kerja jarak jauh menawarkan fleksibilitas, hal ini juga dapat memperburuk perasaan isolasi, terutama bagi pekerja muda yang masih membangun jaringan profesional.

Jensen Tung, seorang pembuat film dan pengusaha, menyoroti pentingnya melepaskan harga diri dari pekerjaan. Ia mengingatkan bahwa hidup lebih dari sekadar pekerjaan, dan penting untuk menetapkan batasan yang jelas antara keduanya.

Dengan semua tantangan ini, penting bagi individu berusia 25-an untuk menemukan cara untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Menciptakan batasan yang sehat, mencari dukungan mental, dan berfokus pada nilai-nilai pribadi dapat membantu mereka mencapai keseimbangan yang lebih baik.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |