Tiap Hari 28 Warga Malaysia Harus Cuci Darah, Indonesia Hadapi Ancaman Serupa pada Anak Muda

1 day ago 13

Fimela.com, Jakarta - Kasus gagal ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) di Malaysia tengah menjadi perhatian besar. Setiap hari, rata-rata ada 28 warga Malaysia yang didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus segera menjalani dialisis atau cuci darah untuk bertahan hidup. Penyebab utamanya didominasi diabetes, hipertensi, serta pola hidup yang tidak sehat.

Tren serupa ternyata juga mulai menjadi perhatian di Indonesia. Meski penyebab gagal ginjal pada anak dan remaja tidak sepenuhnya sama dengan orang dewasa, jumlah kasusnya disebut terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut DR Dr Eka Laksmi Hidayati, SpA, Subsp Nefro(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, peningkatan kasus gangguan ginjal kronis pada kelompok usia di bawah 18 tahun memang terjadi, meski kenaikannya tidak terlalu melonjak.

Dr. Eka, mengatakan bahwa kasus gangguan ginjal pada anak dan remaja di Indonesia mengalami peningkatan yang stabil setiap tahunnya.

“Pada usia kurang dari 18 tahun ada peningkatan dari tahun ke tahun. Tidak melonjak, tetapi stabil meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat kasus gangguan ginjal lebih sering ditemukan sekarang adalah semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan akses yang lebih baik, lebih banyak pasien yang akhirnya bisa terdiagnosis dan mendapatkan penanganan.

Penyebab Gagal Ginjal Pada Anak

Berbeda dengan orang dewasa yang banyak mengalami gagal ginjal akibat diabetes dan hipertensi, penyebab tersering gangguan ginjal pada anak dan remaja justru berasal dari kelainan bawaan pada ginjal atau saluran kemih.

“Pada kelompok anak usia di bawah 18 tahun, penyebab yang paling sering adalah kelainan bentuk ginjal dan atau saluran kemih,” jelasnya.

Meski begitu, pola hidup modern tetap dinilai memiliki peran terhadap peningkatan risiko gangguan ginjal pada anak dan remaja. Konsumsi makanan dan minuman manis memang tidak langsung menyebabkan gagal ginjal, tetapi dapat memicu obesitas, tekanan darah tinggi, hingga komplikasi yang berdampak pada kesehatan ginjal.

Minuman Manis Ikut Berperan

Fenomena maraknya konsumsi minuman manis, dessert, fast food, dan makanan ultra-proses di kalangan anak muda juga menjadi perhatian. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi di usia muda, yang kemudian berkontribusi terhadap gangguan ginjal.

“Peran makanan dan minuman manis secara langsung tidak membuat gagal ginjal, tetapi dapat menyebabkan obesitas, berisiko hipertensi, dan bisa berkomplikasi menjadi gagal ginjal,” kata dr. Eka.

Karena itu, orang tua diimbau lebih peka terhadap keluhan yang dialami anak. Gejala gangguan ginjal sering kali tidak khas dan kerap diabaikan, mulai dari bengkak, mudah lelah, perubahan warna urine, urine berbusa, hingga frekuensi buang air kecil yang berubah.

Menurut dr. Eka, keluhan apa pun yang menetap lebih dari satu bulan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter agar kondisi ginjal dapat terdeteksi lebih dini sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |