Mencegah Kanker Darah pada Anak Usia Muda, Memahami Faktor Risiko dan Upaya Perlindungan

10 hours ago 7

ringkasan

  • Sebagian besar kanker darah pada anak tidak dapat dicegah secara definitif karena penyebab pastinya seringkali tidak diketahui dan banyak kasus tidak memiliki faktor risiko yang jelas.
  • Faktor genetik tertentu secara signifikan meningkatkan risiko leukemia anak, namun perubahan genetik ini umumnya didapat sejak dini dan bukan diwariskan.
  • Mengurangi paparan terhadap radiasi, bahan kimia berbahaya seperti pestisida, dan asap tembakau,

Fimela.com, Jakarta - Kanker darah pada anak, yang dikenal sebagai leukemia anak, merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum menyerang si kecil. Penyakit ini terjadi ketika sumsum tulang memproduksi sel darah putih abnormal secara berlebihan, mengganggu fungsi darah yang sehat. Sayangnya, pencegahan leukemia pada anak tidak semudah kanker pada orang dewasa, karena penyebab pastinya seringkali tidak diketahui dan banyak kasus muncul tanpa faktor risiko yang jelas. Meskipun demikian, memahami faktor-faktor yang berkontribusi dan mengambil tindakan pencegahan yang mungkin dapat membantu mengurangi risiko.

Memahami Leukemia Anak: Bisakah Dicegah Sepenuhnya?

Berbeda dengan beberapa jenis kanker pada orang dewasa yang dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup, sebagian besar leukemia pada anak tidak dapat dicegah dengan cara yang sama. Penyebab pasti dari sebagian besar kasus leukemia anak masih menjadi misteri, dan banyak anak yang didiagnosis tidak memiliki faktor risiko yang teridentifikasi. Namun, penelitian terus mengidentifikasi beberapa faktor genetik dan lingkungan yang berpotensi memengaruhi risiko. Mengurangi paparan terhadap faktor risiko lingkungan yang diketahui dan mendukung perkembangan sistem kekebalan tubuh yang sehat menjadi strategi potensial dalam upaya pencegahan.

Faktor Genetik: Risiko yang Tak Terhindarkan Sejak Dini

Beberapa kelainan genetik diketahui secara signifikan meningkatkan risiko leukemia pada anak, dan kondisi ini umumnya tidak dapat dicegah. Contoh kelainan genetik tersebut meliputi Sindrom Down (Trisomi 21), Anemia Fanconi, Sindrom Bloom, Ataksia-telangiektasia, Sindrom Li-Fraumeni, Neutropenia kongenital parah, Sindrom Shwachman-Diamond, dan Sindrom Wiskott-Aldrich. Perubahan genetik yang memicu leukemia anak biasanya berupa mutasi yang didapat sejak dini, bahkan terkadang sebelum lahir. Hanya sebagian kecil anak yang mewarisi perubahan DNA dari orang tua yang meningkatkan risiko kanker.

Melindungi Si Kecil dari Risiko Lingkungan yang Berpotensi Dimodifikasi

Meskipun faktor genetik tidak dapat diubah, ada beberapa faktor lingkungan yang berpotensi dimodifikasi untuk mengurangi risiko leukemia pada anak:

  • Paparan Radiasi: Paparan radiasi tingkat tinggi, seperti dari kecelakaan reaktor nuklir, telah diidentifikasi sebagai faktor risiko leukemia akut pada anak. Paparan radiasi medis dari tes seperti sinar-X dan CT scan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko. Oleh karena itu, menghindari tes medis yang tidak perlu dapat menjadi langkah pencegahan.
  • Paparan Bahan Kimia dan Toksin: Paparan terhadap pestisida, baik di rumah maupun melalui pekerjaan orang tua sebelum atau selama kehamilan dan pada anak usia dini, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko leukemia anak, khususnya AML. Paparan orang tua terhadap cat dan pelarut juga menunjukkan hubungan dengan risiko AML pediatrik yang lebih tinggi. Mengurangi paparan terhadap toksin lingkungan ini dapat membantu menurunkan risiko.
  • Asap Tembakau: Merokok ibu selama kehamilan dan paparan asap rokok pasif pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko leukemia anak. Penting bagi ibu hamil untuk memastikan lingkungan rumah bebas asap rokok demi melindungi kesehatan bayi mereka.
  • Kemoterapi Sebelumnya: Anak-anak yang pernah menjalani pengobatan kanker lain dengan jenis obat kemoterapi tertentu memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kanker kedua, seperti AML, di kemudian hari.

Peran Sistem Kekebalan Tubuh dan Nutrisi dalam Pencegahan Leukemia Anak

Penelitian terus berkembang mengenai peran sistem kekebalan tubuh dan nutrisi dalam pencegahan leukemia anak:

  • Hipotesis Infeksi/Sistem Kekebalan Tubuh: Sebuah teori populer menunjukkan bahwa kurangnya paparan awal terhadap infeksi umum (bakteri dan virus) pada masa bayi dapat berkontribusi pada leukemia limfoblastik akut (ALL). Teori "infeksi tertunda" ini mengemukakan bahwa sistem kekebalan tubuh yang belum terlatih mungkin bereaksi berlebihan terhadap infeksi di kemudian hari, memicu perkembangan leukemia pada anak-anak dengan mutasi genetik yang sudah ada. Faktor-faktor seperti kehadiran di tempat penitipan anak, memiliki saudara kandung yang lebih tua, dan menyusui dikaitkan dengan risiko ALL yang lebih rendah, kemungkinan karena peningkatan paparan awal terhadap infeksi.
  • Faktor Diet: Asupan vitamin dan suplementasi folat selama periode prakonsepsi atau kehamilan telah menunjukkan efek perlindungan. Diet ibu yang sehat di sekitar waktu konsepsi atau awal kehamilan, serta diet anak di tahun-tahun awal yang kaya buah-buahan, kacang-kacangan, protein, kedelai, dan produk susu, dikaitkan dengan penurunan risiko. Sebaliknya, lipid tambahan dan daging atau ikan yang diawetkan/diasap dikaitkan dengan peningkatan risiko.
  • Menyusui: Mempromosikan menyusui dianggap penting dalam mengurangi risiko leukemia anak.

Meskipun pencegahan total leukemia anak saat ini belum sepenuhnya mungkin untuk sebagian besar kasus, mengurangi paparan terhadap faktor risiko lingkungan yang diketahui dan mendukung perkembangan kekebalan tubuh yang sehat adalah strategi yang menjanjikan. Hingga saat ini, belum ada program pencegahan yang ditetapkan secara definitif untuk leukemia pada anak.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Anisha Saktian Putri

    Author

    Anisha Saktian Putri
 unsplash.com/NCI

HealthFakta di Balik Kanker Darah Usia Muda, Genetik, Lingkungan, dan Gaya Hidup

Kanker darah pada usia muda adalah kondisi kompleks yang dipengaruhi genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Artikel ini mengupas tuntas penyebab serta meluruskan mitos seputar penyakit ini.

Dengan berkembangnya teknologi kesehatan, kini tersedia vaksin HPV nonavalent. [Dok/freepik.com/atlascompany]

HealthHPV-Test Jadikan Skrining HPV Semakin Mudah dan Nyaman

Prodia dengan dukungan Roche Diagnostics luncurkan My HPV-Test, skrining HPV kini lebih nyaman dengan metode self-collection.

Ilustrasi perempuan yang menunjukkan tes kehamilan/copyright unsplash.com/Amr Taha

HealthMengetahui Risiko Egg Freezing, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Pembekuan sel telur atau egg freezing menjadi pilihan populer bagi banyak perempuan yang ingin menunda kehamilan. Namun, penting untuk memahami berbagai risiko yang menyertainya, mulai dari stimulasi ovarium hingga potensi tantangan kehamilan di masa depan.

Ilustrasi test pack. Photo by Nylos on Unsplash

HealthKapan Waktu Terbaik untuk Egg Freezing? Panduan Lengkap untuk Perempuan

Bagi perempuan modern yang ingin menunda kehamilan, membekukan sel telur atau egg freezing menjadi pilihan strategis. Namun, kapan waktu paling ideal untuk melakukannya? Artikel ini mengulas usia optimal, tingkat keberhasilan, dan faktor-faktor pribadi yang perlu dipertimbangkan.

ilustrasi perempuan tersenyum/Photo by Nursultan Bakyt on Unsplash

HealthMengenal Egg Freezing, Pilihan Modern untuk Merencanakan Kehamilan di Masa Depan

Egg freezing, atau pembekuan sel telur, kini menjadi pilihan populer bagi perempuan yang ingin menunda kehamilan atau menjaga kesuburan. Prosedur ini melibatkan pengambilan, pembekuan, dan penyimpanan sel telur untuk digunakan di kemudian hari, menawarkan fleksibilitas dalam perencanaan keluarga.

Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |