Dampak Kesehatan Saat Overtime Bekerja yang Bisa Picu Penyakit Jantung dan Stroke

9 hours ago 8

ringkasan

  • Kerja lembur, terutama di atas 55 jam per minggu, secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke, dengan WHO dan ILO melaporkan 745.000 kematian global pada tahun 2016 akibat kondisi ini.
  • Jam kerja panjang berhubungan erat dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan peningkatan risiko ketidakhadiran sakit jangka panjang, terutama jika tidak ada kontrol atas waktu kerja.
  • Overtime juga menyebabkan gangguan tidur, kelelahan, serta mendorong perilaku tidak sehat seperti peningkatan konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, dan risiko diabetes tipe 2.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda merasa kelelahan akibat jam kerja yang tak ada habisnya? Fenomena kerja lembur kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tuntutan profesionalisme modern. Namun, di balik dedikasi tersebut, tersimpan berbagai risiko serius bagi kesehatan fisik dan mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2016 telah menyoroti isu ini secara global. Mereka menemukan bahwa jam kerja panjang, khususnya yang melebihi 55 jam per minggu, berkontribusi pada ratusan ribu kematian. Dampak ini paling terasa di wilayah Pasifik Barat dan Asia Tenggara.

Mengapa jam kerja berlebihan bisa begitu berbahaya? Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai dampak kesehatan saat overtime bekerja. Mulai dari ancaman penyakit jantung dan stroke hingga gangguan tidur serta masalah mental yang sering terabaikan. Mari kita pahami lebih dalam untuk menjaga keseimbangan hidup yang lebih baik.

Ancaman Serius Penyakit Jantung dan Stroke Akibat Kerja Lembur

Kerja lembur, terutama yang melampaui 55 jam per minggu, telah diidentifikasi sebagai faktor risiko signifikan terhadap masalah kardiovaskular. WHO dan ILO memperkirakan bahwa pada tahun 2016, sebanyak 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik disebabkan oleh jam kerja yang panjang.

Studi menunjukkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu dikaitkan dengan perkiraan risiko stroke 35% lebih tinggi. Selain itu, ada risiko 17% lebih tinggi untuk meninggal akibat penyakit jantung iskemik, dibandingkan dengan mereka yang bekerja 35-40 jam per minggu. Antara tahun 2000 dan 2016, jumlah kematian akibat penyakit jantung karena kerja lembur meningkat sebesar 42%, dan dari stroke sebesar 19%.

Beban penyakit terkait pekerjaan ini sangat signifikan pada pria, di mana 72% kematian terjadi pada laki-laki. Selain itu, orang yang tinggal di wilayah Pasifik Barat dan Asia Tenggara, serta pekerja paruh baya atau lebih tua, juga memiliki risiko yang lebih tinggi. Sebuah studi longitudinal 30 tahun di Denmark bahkan menemukan pria yang bekerja 41-45 jam per minggu memiliki risiko kematian 59% lebih tinggi karena penyakit jantung iskemik dibandingkan pria yang bekerja kurang dari 40 jam per minggu.

Tak hanya itu, studi lain menunjukkan bahwa 3-4 jam kerja lembur per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner (CHD) sebesar 1,60 kali lipat. Ini menunjukkan bahwa bahkan lembur dalam durasi yang relatif singkat pun dapat membawa konsekuensi serius bagi kesehatan jantung. Risiko penyakit kardiovaskular juga meningkat bagi mereka yang bekerja lebih dari 46 jam per minggu.

Gangguan Mental dan Stres Berlebihan: Sisi Gelap Overtime

Selain dampak fisik, dampak kesehatan saat overtime bekerja juga sangat terasa pada kesehatan mental. Kerja lembur dapat menyebabkan stres kronis, kurangnya waktu luang, ketidakseimbangan kehidupan kerja, dan berbagai risiko kesehatan mental lainnya.

Beberapa penelitian telah menemukan hubungan kuat antara depresi dan jam kerja yang panjang. Bekerja lebih dari 34 jam, 48 jam, atau 55 jam per minggu secara signifikan meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami depresi dan kecemasan. Sebuah meta-analisis dari 28 studi bahkan menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang dikaitkan dengan risiko gejala depresi yang lebih tinggi (OR 1,14).

Kerja lembur yang berlebihan juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi untuk ketidakhadiran sakit jangka panjang (LTSA) karena masalah kesehatan mental. Namun, kontrol atas waktu kerja, seperti kemampuan untuk mengatur waktu libur atau jam kerja harian, dapat mengurangi depresi, kecemasan, stres, dan konflik kerja-keluarga di antara karyawan lembur.

Menariknya, studi menunjukkan bahwa kerja lembur yang tidak dibayar tampaknya lebih merugikan kesehatan mental daripada kerja lembur yang dibayar. Hal ini mungkin karena adanya perasaan kurang dihargai atau eksploitasi yang memperparah tekanan psikologis.

Tidur Terganggu dan Perilaku Tidak Sehat: Konsekuensi Jangka Panjang

Jam kerja yang panjang atau kerja lembur secara langsung mengurangi waktu tidur yang esensial, yang pada akhirnya mengakibatkan kelelahan parah. Bekerja lebih dari 55 jam seminggu, dibandingkan dengan 35-40 jam seminggu, berhubungan dengan gangguan tidur yang signifikan, termasuk waktu tidur yang lebih pendek, kesulitan tidur, dan bangun tanpa merasa segar.

Kurang tidur yang kronis dapat meningkatkan risiko infark miokard akut, sebuah kondisi jantung serius. Pekerja yang lembur lebih dari 100 jam per bulan seringkali mengalami kurang dari 6 jam tidur, makan malam terlambat, dan lebih sering makan di luar, yang semakin memperburuk kondisi kesehatan mereka. Kondisi ini juga dapat memicu gangguan tidur seperti insomnia.

Selain itu, jam kerja yang panjang dapat memicu perilaku tidak sehat. Studi mengungkapkan adanya peningkatan penggunaan alkohol dan tembakau, penurunan tingkat aktivitas fisik, serta penambahan berat badan yang tidak sehat pada pekerja lembur. Perilaku ini semakin memperparah dampak kesehatan saat overtime bekerja.

Kombinasi kerja lembur yang panjang dan durasi tidur yang singkat secara signifikan meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Kelelahan, kurangnya perhatian, dan kelelahan akibat jam kerja yang panjang juga dapat menurunkan tingkat kinerja karyawan, serta meningkatkan risiko cedera kerja dan masalah muskuloskeletal seperti nyeri leher dan cedera regangan berulang (RSI).

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Anisha Saktian Putri

    Author

    Anisha Saktian Putri
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |